Senin, 18 Juni 2018, 6:30
Home / ENTERTAINMENT / EVENT / ANAK SUKU TENGGER PERINGATI MOMEN 23 JULI LEWAT DOLANAN TRADISIONAL
Anak - Anak Suku Tengger Sedang Menari. Sumber Foto : Zulkiflie

ANAK SUKU TENGGER PERINGATI MOMEN 23 JULI LEWAT DOLANAN TRADISIONAL

WAGATABERITA.COM – PROBOLINGGO. Berlokasi di puncak Seruni Poin, kawasan taman nasional Bromo Tengger Semeru, peringatan hari anak yang jatuh tiap 23 Juli, diperingati anak – anak suku Tengger Kabupaten Probolinggo Jawa Timur, dengan mengikuti lomba menari, mewarnai dan dolanan tradisional, Minggu (23/07/2017).

Anak – anak yang notabene, merupakan siswa PAUD hingga sekolah dasar itu, sangat antusias mengikuti lomba yang pertama kalinya diadakan. Kelucuan aksi para peserta lomba tari, mengundang decak tawa penonton yang menyaksikannya.

Meski begitu, para peserta tetap semangat menunjukkan kemampuannya. Selain lomba menari, ada juga lomba mewarnai dan dolanan tradisional. Dolanan sendiri berupa permainan lompat tali, Congklak hingga bola Bekel.

Dolanan tradisional, sengaja menjadi tema pada peringatan hari anak, supaya permainan tradisional yang dimiliki bangsa Indonesia, tetap lestari dan menjaga anak dari bahaya pengaruh permainan modern, seperti gadget maupun lainnya.

“Senang ikut lomba ini, apa lagi main bekel, senang sekali. Lebih suka main bekel dari pada handphone,” kata Icha, salah seorang anak.

Adanya lomba anak itu, direspon positif oleh para orang tua siswa. Pasalnya, banyaknya jenis permainan modern elektronik yang beredar di pasaran saat ini, membuat kecenderungan siswa malas untuk belajar, ataupun aktifitas lainnya.

Seperti yang diungkapkan oleh Sinta, orang tua salah satu anak suku Tengger.

Anak – Anak Suku Tengger Sedang Bermain Doloanan Yang Merupakan Permainan Tradisional. Sumber Foto : Zulkiflie

Kata dia, dengan permainan tardisional, anak akan bisa belajar berinteraksi dengan orang lain dan bertambah luas wawasannya ketimbang bermain Gadget.

Dipilihnya 3 permainan tradisional seperti lompat tali, Congklak dan bola Bekel, kata Camat Sukapura, Yulius Christian karena 3 permainan sederhana itu memiliki manfaat meningkatkan kemampuan motorik anak, disamping pelestarian adat dan budaya.

“Harapannya dengan metode bermainn seperti ini, perkembangan anak lebih baik dan cerdas. Semoga anak – anak bisa merubah kebiasaannya dari main Gadget, beralih ke permainan tradisional,” ujar Yulius. (Zulkiflie/Halu)

Check Also

JEMAAH ABOGE PROBOLINGGO SHOLAT IED DAN RAYAKAN LEBARAN SABTU PAGI

WAGATABERITA.COM – PROBOLINGGO. Meski mayoritas umat islam telah merayakan lebaran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *