Senin, 28 Mei 2018, 11:55
Home / BANDUNG / HARMONI BUDAYA SEJARAH PERSATUKAN JAWA – SUNDA

HARMONI BUDAYA SEJARAH PERSATUKAN JAWA – SUNDA

WAGATABERITA.COM – BANDUNG. Pada acara Harmoni Budaya Jawa – Sunda dan Peresmian Jalan Majapahit dan Hayam Wuruk, di Gedung Sate, Jl. Diponegoro No. 22, Bandung, Jumat (11/05/2018).

Gubernur Jawa Barat, Dr. H. Ahmad Heryawan yang bertindak selaku tuan rumah menyampaikan, harmoni budaya akan bisa menghadirkan persatuan dan kesatuan. Selain itu, senada dengan yang disampaikan Pakde Karwo budaya bisa menjernihkan yang kotor, mengindahkan yang belum indah, serta merapikan semuanya. “Lewat kegiatan harmoni budaya pada hari ini, mari kita ciptakan cara pandang yang sama, tidak perlu mempermasalahkan lagi siapa yang salah dan benar,” ujar Kang Aher sapaan akrab Gubernur Jabar.

Kang Aher menegaskan, bahwa harmoni budaya ini turut menjadi sejarah dan terobosan yang tepat untuk menyatukan Indonesia. Pasalnya, jumlah etnis Jawa mencapai 42% dari seluruh etnis di Indonesia, sedangkan etnis Sunda mencapai 14%. Jika digabungkan, jumlahnya mencapai 56% atau separuh lebih dari seluruh etnis di Indonesia. “Artinya jika masalah Jawa dan Sunda selesai, maka perkara – perkara besar di Indonesia juga selesai,” imbuhnya.

Ditambahkan, kegiatan ini merupakan kelanjutan dari rekonsiliasi budaya Sunda – Jawa yang digelar di Surabaya pada bulan Maret lalu. Pada waktu itu ditandai dengan digantinya nama dua jalan arteri di Kota Surabaya dengan simbol kesundaan yakni, Jl. Prabu Siliwangi menggantikan Jl. Gunungsari, dan Jl. Sunda menggantikan Jl. Dinoyo. Sedangkan untuk penamaan Jl. Majapahit di Bandung menggantikan Jl. Gasibu, dan Jl. Hayam Wuruk menggantikan Jl. Cimandiri.

“Saat di Surabaya maupun DIY judul besarnya yakni rekonsiliasi budaya Sunda – Jawa, namun disini kami mengangkat tema harmoni budaya Jawa – Sunda. Ini merupakan bentuk saling penghormatan diantara kami,” tukasnya.

Kang Aher menjelaskan, bahwa penamaan jalan ini sudah melewati musyawarah dan diskusi dengan berbagai pihak mencakup sejarawan, budayawan, dan akademisi. Pihaknya juga akan segera melakukan sosialisasi kepada masyarakat Bandung sehingga tidak akan ada masalah kedepannya. “Mari kita membangun harmoni secara bersama – sama, sehingga secara psikologis akan menghilangkan sekat antara Jawa dan Sunda,” harapnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X mengatakan, kegiatan ini memberi nilai yang sangat penting dalam rangka upaya meningkatkan promosi potensi budaya DIY, Jatim dan Jabar ke masyarakat luas. Selain itu, juga sebagai media untuk memupuk dan membudayakan nilai – nilai adat dan budaya serta kesenian yang ada. “Mari kita bangkitkan nilai – nilai budaya lokal tradisional sehingga memunculkan kreatifitas yang menjadi budaya sehat bagi bangsa,” ungkapnya.

Paku Alam X berharap, kegiatan harmoni budaya ini tidak hanya dilihat dari sisi penyelesaian konflik Jawa – Sunda saja, namun lebih kepada pembangunan potensi daerah secara luas. “Baik Jabar, Jatim maupun DIY masing – masing memiliki keunggulan, maka jika kerjasama ini ditingkatkan tentunya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tiga daerah,” terangnya.

Untuk menyemarakkan acara ini Pemprov Jatim juga menyumbangkan satu tarian menarik yakni Geleng Ro’om yang berasal dari Pulau Madura. Sedangkan Pemprov Jabar juga menghadirkan tarian yang tak kalah menariknya persembahan dari Institut Seni Budaya Indonesia Bandung (ISBI).

Turut hadir Kepala DPRD Prov. Jatim Abdul Halim Iskandar, Forkopimda di lingkup Pemprov Jabar, perwakilan masyarakat dari Jl. Sunda (eks. Jl. Dinoyo Surabaya), pejabat di lingkungan OPD Provinsi Jabar, dan beberapa pejabat di lingkup OPD Provinsi Jatim. (Red)

Check Also

TEROR BOM BUKAN PEMIKIRAN MAINSTREAM MASYARAKAT JATIM YANG DAMAI DAN TOLERAN

WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Jelas Konjen AS untuk Surabaya Heather Variava

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *