WAGATABERITA.COM – JAKARTA.
Ketika yang berimajinasi
Tak lagi dihormati,
Ketika para pemimpi dikebiri
Itu ujung sebuah negeri
Aku masih bocah
Ayahku dipenjara
Berapa kali ibu ajak aku
Katanya Ayah rindu
Tahun demi tahun kulalui
Ayah makin tak kukenali
Badannya kurus sekali
Walau mata tetap bernyali
Terkurung di balik terali
Bertahun ibu merana
Ayah pun mati di sana
Setelah dewasa
Kumengerti yang sebenarnya
Pak Tua itu terus bicara
Ia asal Rusia
Kisahkan pergolakan di sana
Darta mendengar saja
Berdua di beranda
Berbagi hikmah
Lanjut pak Tua :
Ayahku hanya bersuara
Kabarkan yang luka
Ada ketidak adilan
Dalam sistem pemerintahan
Ada yang merana
Di injak kaki penguasa
Di balik megah istana
Banyak kaum papa
Di balik kuat penguasa
Banyak derita
Kebebasan dibungkam
Kebohongan dijejalkan
Kutahu kemudian
Tak hanya Ayah dipenjara
Banyak yang dibuang
Tak berbilang yang hilang
Hingga suatu masa
Tiada lagi yang bersuara
Tapi di bawah sana
Api membara
Datanglah itu masa
Tumbang penguasa
Bahkan itu negara
Bubar sudah (2)
Siapa yang duga
Roboh itu raksasa
Pagi itu kutemani Ibu
Berdoa di makam Ayah
Lirih ibu bersuara
“Sayangku, matimu tak percuma
Kau jaga sukma
Seperti yang kau percaya
kuasa tak tahan lama
Jika keadilan luka
Raksasa yang membunuhmu
Lenyap sudah dari peta”
Sejak Ibu tiada
Aku keliling dunia
Kucoba apa yang bisa
Memberi kesaksian
Sampaikan peringatan
Sore itu di Mushola
Setelah selesai berdoa
Darta merenung lama
Diingatnya pesan pak Tua
Tentang pentingnya sebuah negeri
Menghormati para pemimpi (3)
CATATAN KAKI
1. Puisi esai mini ini dialog saya dengan situasi, dan diinspirasi oleh satu prinsip dalam Juz 17, Q. 21 : 1 – Q. 22 : 78.
2. Uni Sovyet tak hanya sebuah negara, tapi ia raksasa kekuasaan yang mendominasi separuh dunia saat itu : blok komunisme. Di tahun 1991, raksasa itupun hilang dalam sejarah. Banyak wilayah yang dulu dikuasainya, kini berdiri sendiri – sendiri sebagai negara nasional.
3. Yang dimaksud para pemimpi di sini adalah mereka yang selalu bersuara pentingnya keadilan, walau sulit dibayangkan bisa tegak di zamannya. Namun mereka terus pelihara mimpi itu, walau harus berhadapan dengan kekuasaan. Mereka terus memberi peringatan.
Para pemimpi ini pada dasarnya mengikuti teladan dari para pemberi peringatan sebelumnya.
Katakanlah : “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu.” Q. 21 : 49. (Red/IWO, Sabtu 02/06/2018)
- ULASAN DENNY JA TENTANG NYANYIAN SETNOV, PUAN MAHARANI DAN EFEK ELEKTORAL DI TAHUN POLITIK
- PENJELASAN DENNY JA MENGENAI ISU : INDONESIA AKAN “MUSNAH” DI TAHUN 2030..?
- TAK AKAN ADA KEKUATAN YANG MAMPU MENCEGAH TAKDIR KERUNTUHAN SISTEM NEGARA ERA REFORMASI
- ULASAN DENNY JA : DAN KREATIVITAS PUN MENULAR
- BUKANKAH PEMBIARAN KESALAHAN SAMA BURUKNYA DENGAN KRITIK ASAL – ASALAN ?
Wagata Berita wagata berita adalah website yang berisikan berita-berita terkini.