Senin, 22 Oktober 2018, 8:20
Home / JAKARTA / PUISI DENNY JA, SAHUR HARI KE TUJUH BELAS : RAKSASA ITU AMBRUK JUA (1)

PUISI DENNY JA, SAHUR HARI KE TUJUH BELAS : RAKSASA ITU AMBRUK JUA (1)

WAGATABERITA.COM – JAKARTA.

Ketika yang berimajinasi
Tak lagi dihormati,
Ketika para pemimpi dikebiri
Itu ujung sebuah negeri

Aku masih bocah
Ayahku dipenjara
Berapa kali ibu ajak aku
Katanya Ayah rindu

Tahun demi tahun kulalui
Ayah makin tak kukenali
Badannya kurus sekali
Walau mata tetap bernyali
Terkurung di balik terali

Bertahun ibu merana
Ayah pun mati di sana
Setelah dewasa
Kumengerti yang sebenarnya

Pak Tua itu terus bicara
Ia asal Rusia
Kisahkan pergolakan di sana
Darta mendengar saja
Berdua di beranda
Berbagi hikmah

Lanjut pak Tua :
Ayahku hanya bersuara
Kabarkan yang luka

Ada ketidak adilan
Dalam sistem pemerintahan
Ada yang merana
Di injak kaki penguasa

Di balik megah istana
Banyak kaum papa
Di balik kuat penguasa
Banyak derita

Kebebasan dibungkam
Kebohongan dijejalkan

Kutahu kemudian
Tak hanya Ayah dipenjara
Banyak yang dibuang
Tak berbilang yang hilang

Hingga suatu masa
Tiada lagi yang bersuara
Tapi di bawah sana
Api membara

Datanglah itu masa
Tumbang penguasa
Bahkan itu negara
Bubar sudah (2)
Siapa yang duga
Roboh itu raksasa

Pagi itu kutemani Ibu
Berdoa di makam Ayah
Lirih ibu bersuara

“Sayangku, matimu tak percuma
Kau jaga sukma
Seperti yang kau percaya
kuasa tak tahan lama
Jika keadilan luka
Raksasa yang membunuhmu
Lenyap sudah dari peta”

Sejak Ibu tiada
Aku keliling dunia
Kucoba apa yang bisa
Memberi kesaksian
Sampaikan peringatan

Sore itu di Mushola
Setelah selesai berdoa
Darta merenung lama
Diingatnya pesan pak Tua
Tentang pentingnya sebuah negeri
Menghormati para pemimpi (3)

CATATAN KAKI

1. Puisi esai mini ini dialog saya dengan situasi, dan diinspirasi oleh satu prinsip dalam Juz 17, Q. 21 : 1 – Q. 22 : 78.

2. Uni Sovyet tak hanya sebuah negara, tapi ia raksasa kekuasaan yang mendominasi separuh dunia saat itu : blok komunisme. Di tahun 1991, raksasa itupun hilang dalam sejarah. Banyak wilayah yang dulu dikuasainya, kini berdiri sendiri – sendiri sebagai negara nasional.

3. Yang dimaksud para pemimpi di sini adalah mereka yang selalu bersuara pentingnya keadilan, walau sulit dibayangkan bisa tegak di zamannya. Namun mereka terus pelihara mimpi itu, walau harus berhadapan dengan kekuasaan. Mereka terus memberi peringatan.

Para pemimpi ini pada dasarnya mengikuti teladan dari para pemberi peringatan sebelumnya.

Katakanlah : “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu.” Q. 21 : 49. (Red/IWO, Sabtu 02/06/2018)

Check Also

BEBASKAN KEJAGUNG RI DARI KORUPSI UNTUNG AJAK JAJARANNYA TEKEN PAKTA INTEGRITAS

WAGATABERITA.COM – JAKARTA. Setiap Instansi Kepemerintahan di Republik Indonesia ini terus menggaungkan anti korupsi tak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *