Senin, 28 Mei 2018, 12:12
Home / HOTNEWS / AIR MATA PEDAGANG PACUAN KUDA UNTUK TRI RISMAHARINI
Pedagang Kaki Lima Di Pacuan Kuda Surabaya Memperlihatkan Satu Bundel Surat Aduan Yang Akan Diberikan Kepada DPRD Kota Surabaya. Sumber Foto : Haludin Ma'waledha

AIR MATA PEDAGANG PACUAN KUDA UNTUK TRI RISMAHARINI

WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Matanya memerah, sesekali terlihat mengusap air mata yang membasahi pipi sang perempuan berjilbab itu.

Dia adalah Insia (46) yang merupakan pedagang jilbab di pacuan kuda Surabaya. Hampir sebulan ini, dia bersama rekan – rekanya tak tenang berjualan di tempat yang ia lakoni selama 25 tahun itu. Sebab sejak pukul 06 : 00 WIB, mereka kucing – kucingan dengan Sat Pol PP Pemkot Surabaya.

Pedagang berjumlah 280 lebih itu tak dibolehkan lagi berjualan di lokasi Pacuan Kuda. “Tidak ada alasan. Juga pemberitahuan lebih awal, tapi tanggal 19 Mei 2017 kami langsung diusir, tidak boleh berjualan di situ,” ujar ibu tiga orang anak itu.

Dia berharap Walikota Surabaya Tri Rismaharini peduli dengan keadaan pedagang Pacuan Kuda. “Ini mau lebaran pak, Juga anak mau sekolah. Kalau kami diusir tidak berjualan di situ, kami makan apa. Juga mau biayai anak sekolah pakai apa,” tutur Insia dengan nada bertanya sambil mengusap air matanya.

Senada juga dikemukakan Suharni (52). Perempuan tinggal menetap di Simogerejo, Kelurahan Simomuliyo, Kecamatan Sukomanunggal, Surabaya itu menyesalkan tindakan Pol PP Pemkot Surabaya.

“Kami itu diusir tiba – tiba. Tim gabungan terdiri dari Pol PP, aparat kepolisian dan TNI datang untuk melarang kami berjualan. Bahkan pakai anjing pelacak, ini apa – apa, ” tandas Suharni dengan nada bertanya dan kesal, Senin (29/05/2017).

Suharni yang berjualan sayur – mayur sejak 72 tahun silam di Pacuan Kuda, Surabaya itu meminta kepada Walikota Surabaya Tri Rismaharini untuk tidak melarang para pedagang lapak di Pacuan Kuda. “Saya mohon dengan hormat, kami diberi kesempatan berjualan sampai pkl 09 : 00 WIBI. Setelah itu mereka akan meninggalkan lokasi jualan dan sudah bersih. “Kasian kami hanya untuk mencari sesuap nasi,” kata sang ibu rumah tangga itu.

Suharni mengatakan, waktu yang diminta itu sangat proporsional. “Saya menjamin, jam 9 ke atas tempat jualan Pacuan Kuda akan bersih,” ujar perempuan yang berjualan sayur – sayuran di pacuan Kuda selama 25 tahun.

Warga yang berjualan di Pacuan Kuda itu mendatangi DPRD Kota Surabaya untuk mengadukan nasib mereka.

Namun, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, yang baru keluar dari Sidang Paripurna Dewan, terlihat langsung naik ke mobil dinas miliknya dan kembali ke Balai kota. Tak ada basa – basi dengan warga. “Tidak ketemu pak, beliau langsung naik mobilnya.”

Lalu kemana mereka untuk mengadukan nasib para pedagang kaki lima (pasar tumpah) di Surabaya itu? Kita tunggu kebijakan arif dari sang Walikota Tri Rismaharini yang selalu getol menyuarakan kepentingan rakyat, terutama rakyat kecil seperti pedagang di pacuan kuda. (Haludin Ma’waledha)

Check Also

PELAKU USAHA DI PROBOLINGGO LAKUKAN DEKLARASI DAMAI PASCA TEROR

WAGATABERITA.COM – PROBOLINGGO. Pasca serentetan teror ledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo lalu, hingga berujung penangkapan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *