Jumat, 20 April 2018, 19:47
Home / EKONOMI / KEUANGAN / PAKDE KARWO MENGINISIASI PENDIRIAN 3.500 KOPERASI SYARIAH
Pakde Karwo Saat Menerima Penghargaan Tokoh Bidang Pengembangan Keuangan Syariah. Sumber Foto : Endri Soedarto

PAKDE KARWO MENGINISIASI PENDIRIAN 3.500 KOPERASI SYARIAH

WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Pakde Karwo sangat berperan dan jasa dalam menginisiasi pendirian koperasi syariah wanita di Jawa Timur. Jumlahnya pun sangat fantastis mencapai 3.500 koperasi di tingkat desa.

Keberadaan koperasi ini mampu meningkatkan akses keuangan syariah bagi masyarakat kecil. Selain itu, Pakde Karwo dipandang terus berperan dalam mendorong spin off unit usaha syariah Bank Jatim.

Itu sebabnya, H. Soekarwo mendapatkan penghargaan tokoh bidang pengembangan keuangan syariah kategori pendorong akselerasi pertumbuhan keuangan syariah dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Penghargaan itu diserahkan langsung Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman Darmansyah Hadad, pada acara Grand Launching Program Akses Keuangan Syariah untuk Masyarakat Mandiri Berbasis Masjid (AKSI UMMAD) di Hotel Shangri – La Surabaya, Selasa (30/05/2017).

Dalam sambutannya, Pakde Karwo menjelaskan bahwa dalam tiga tahun terakhir ini kondisi penerimaan negara mengalami stagnan. Hal ini tergambar dari realisasi pajak pemerintah pusat pada Tahun 2015 dan 2016 mengalami defisit yaitu Tahun 2015 sebesar 239 triliun rupiah dan Tahun 2016 sebesar 250 triliun rupiah. Kondisi ini juga terjadi di Jatim, dimana selama tiga tahun terakhir, Pendapatan Asli Daerah (PAD) stagnan pada posisi sekitar 14 triliun rupiah.

Untuk itu, keuangan syariah sangat dibutuhkan karena Jatim digerakkan oleh uang yang ada di masyarakat. Dimana, masyarakat Jatim yang menyimpan uang di bank hanya sebesar 46 triliun rupiah, dari total 501 triliun uang yang beredar di masyarakat. Sisanya, ada sekitar 327 triliun rupiah uang masyarakat yang tidak masuk ke perbankan.

Kondisi ini, membuat Pakde Karwo mendorong masyarakat terutama di pondok pesantren, agar menyalurkan uangnya melalui lembaga keuangan mikro syariah seperti BMT selanjutnya ke industri jasa keuangan. Salah satunya dengan adanya 500 paket masing – masing sebesar 25 juta rupiah dalam setahun untuk majelis taklim atau hibah fungsional untuk membangun jasa keuangan di daerah pinggir. “Ini dilakukan agar uang masyarakat jadi usaha yang produktif. Kalau disimpan di bantal saja bisa digunakan untuk konsumtif seperti membeli sepeda motor,‘’ tandasnya.

Kata dia, keuangan syariah memerlukan kejujuran, termasuk dalam membagi keuntungan. Lebih dari itu, konsep syariah ini juga membangun akhlak. Masyarakat jujur inilah yang kemudian membuat kondisi Jatim menjadi tenang dan adem. “Saya akan menyamakan konsep ini dengan OJK dan BI, untuk kemudian melalui kerjasama dan ini modal sosial luar biasa, sehingga bisa kita masukkan dalam skema pembiayaan,” tandasnya.

Soekarwo mengatakan, dari aspek rasio jumlah rekening UMKM perbankan syariah mencapai 84,28 persen dan non UMKM mencapai 15,72 persen. Ini menggambarkan kecenderungan pembiayaan syariah saat ini pada segmen UMKM.

Data yang ada total pembiayaan syariah di Jatim sendiri mencapai Rp 20,99 triliun dengan jumlah rekening 481.994 dengan rata – rata pembiayaan sebesar Rp 43,5 juta per rekening.

Kata Pakde Karwo, Pemprov Jatim saat ini memiliki Satuan Tugas Akselerasi Ekonomi Syariah (SATU AKSES) yang dibentuk pada tanggal 21 Oktober 2016. Satgas ini dibentuk berdasarkan Keputusan Gubernur Jatim Nomor 188/600/KPTS/013/2016.

Satgas tersebut dibentuk untuk mensinergikan stakeholder pelaku pembiayaan syariah agar sistematis dan terukur. (Endri Soedarto/Halu)

Check Also

KARTINI ILHAM KAUM PEREMPUAN SEPANJANG MASA

WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Bude Karwo menyambut baik penyelenggaraan acara Kartini’s Day yang didedikasikan untuk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *