WAGATABERITA.COM – TRENGGALEK. Bupati Trenggalek Emil Elistianto Dardak ikuti tradisi larung kepala kerbau atau yang lebih dikenal bersih dam Bagong. Ditemani istrinya Arumi Bacshin, orang nomor 1 dijajaran Pemerintahan Kabupaten Trenggalek ini terlihat memakai pakaian adat Jawa sarimbit.
Sebelum memasuki kawasan Dam Bagong, kepala kerbau yang hendak di larung bersama dengan replika tumpeng raksasa sebagai simbol kemakmuran masyarakat setempat atas apa yang telah dilimpahkan Tuhan Yang Maha Kuasa diarak menuju lokasi larung.
Menurut salah satu warga setempat, tradisi bersih dam bagong ini konon menggunakan kepala gajah putih guna sebagai tumbal demi kelancaran dan keberkahan kehidupan masyarakat Trenggalek yang teraliri aliran air dari dam bagong tersebut.
“Seiring berkembangnya waktu, gajah putih tidak diketemukan lagi di Trenggalek bahkan di Indonesia. Untuk itu masyarakat menggantikannya dengan kepala kerbau dalam setiap tradisi bersih dam bagong, dan hal tersebut masih dilestarikan hingga saat ini. Makna dari tradisi bersih dam bagong dengan melemparkan kepala kerbau ke dalam dam ini adalah sebagai wujud penghormatan kepada Adipati Minak Sopal yang dimasa kerajaannya menggunakan kepala gajah putih untuk ditumbalkan ke dam bagong ini agar kehidupan masyarakat Trenggalek yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dapat sejahtera,” ucap Sugiran (49) saat dikonfirmasi, Jumat (18/08/2017).
Lebih lanjut, tradisi tersebut dapat dikatakan sebagai wujud rasa syukur serta mengenang jasa Adipati Minak Sopal yang telah berjuang mensejahterakan masyarakat Trenggalek dimasanya.
Diharapkan tradisi budaya bersih dam bagong ini bisa tetap dilestarikan oleh anak cucu penerus bangsa nantinya. Dalam acara Adat yang berlokasi di Dam Bagong ini, penyembelihan 1 ekor kerbau nantinya akan memiliki peran masing – masing. Seperti kepala kerbau serta kaki kerbau yang akan digunakan sebagai tumbal yang dilarung ke dalam Dam Bagong untuk diperebutkan oleh masyarakat.

Sedangkan daging kerbau akan dimasak untuk menjamu para undangan dan masyarakat umum yang ikut menyaksikan tradisi bersih dam bagong saat itu. Tak berhenti hanya disitu acara Adat ini sebelumnya telah dipersembahkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.
“Pelaksanaan tradisi bersih dam bagong dilakukan sesuai kalender jawa yang jatuh pada Jumat Kliwon pada bulan tersebut yang selanjutnya dilakukan prosesi ruwatan dengan tujuan agar seluruh masyarakat Trenggalek terhindar dari bencana dan selalu ditingkatkan kesejahteraanya. Jika dalam bulan tersebut tidak ditemui hari Jumat Kliwon maka akan diganti pada hari Jumat Pon,” imbuh Giran.
Masih terang bapak 3 anak ini, diharapkan pula pada tahun – tahun berikutnya warisan budaya seperti ini akan terus dilakukan dan dilestarikan. Bukan karena kita mengagung – agungkan, akan tetapi hal ini merupakan wujud penghormatan atas pengorbanan sesepuh terdahulu demi melawan musim kemarau panjang, sehingga lahan pertanian masyarakat Trenggalek bisa kembali mendapatkan aliran irigasi yang mencukupi. (Ayu Mila Sari/Halu)
Wagata Berita wagata berita adalah website yang berisikan berita-berita terkini.