WAGATABERITA.COM – PROBOLINGGO. Kegiatan ziarah kubur, rupanya ada juga di dalam adat masyarakat Hindu Suku Tengger, yang tinggal di lereng gunung Bromo.
Namun berbeda, dengan istilah yang digunakan oleh masyarakat pada umumnya, warga Suku Tengger menamai kegiatan ziarah kubur, dengan sebutan Nyadran.
Nyadran sendiri bahkan, telah menjadi tradisi bagi warga Suku Tengger, dimana tiap tahunnya selalu digelar.
Sama dengan ziarah kubur pada umumnya, warga Suku Tengger membawa bunga tujuh rupa, dan sesajen ke tempat pemakaman umum desa setempat.
- KEBAKARAN HUTAN TURUN, JOKOWI TEGASKAN KOMITMEN PERANGI KARHUTLA
- KUNJUNGI MUHAMMADIYAH JOKOWI BAHAS EKONOMI DAN SERAHKAN HERWAN KURBAN
- JOKOWI BERHARAP MOMEN IDUL ADHA MASYARAKAT MAU BERBAGI KHUSUSNYA BAGI KORBAN BENCANA
- DUKUNGAN RAKYAT INDONESIA DI ASIAN GAMES DIHARAP JADI ENERGI BARU PERJUANGAN PALESTINA
- JOKOWI : APBN 2019 HARUS PRIORITAS HAL STRATEGIS
Bagi warga Suku Tengger, Tradisi Nyadran merupakan acara yang cukup sakral, lantaran merupakan bagian dari mengingat mendiang leluhur mereka yang telah meninggal dunia.
Dikatakan Liliana Widayani, Tradisi Nyadran sudah dilakukan secara turun temurun, oleh karenanya dirinya sebagai kalangan pemuda, ingin terus melestarikan warisan nenek moyangnya tersebut.
“Ini tradisi leluhur yang harus dipertahankan pak, agar tidak terkikis oleh kemajuan zaman,” ungkapnya, Sabtu (01/09/2018).
Dijelaskan Kermat, Tokoh masyarakat Suku Tengger, Tradisi Nyadran dimulai dengan ritual yang diadakan di Punden belakang balai Desa Jetak.

Setelahnya barulah warga berbondong – bondong, ke tempat pemakaman umum desa, guna melanjutkan rangkaian kegiatan Tradisi Nyadran.
Tradisi Nyadran sendiri merupakan, rangkai kegiatan terakhir dalam perayaan Karo tahun Saka 1940.
“Nyadran ini selalu dilakukan warga, tujuannya menjalin silaturahmi antara manusia yang masih hidup dan yang telah meninggal dunia, agar tidak putus,” terang Kermat.
Terpisah Camat Sukapura, Yulius Christian menyampaikan, Perbedaan Tradisi Nyadran yang dilakukan warga Desa Jetak dengan desa lainnya, yakni adanya ritual bernama Nadzar.

Nadzar berarti, salah seorang warga Suku Tengger yang berjanji akan memberikan sesuatu, jika keinginannya terkabulkan.
“Dalam Tradisi Nyadran, mereka yang dikabulkan keinginannya, tentunya akan menepati janjinya. Biasanya barang yang diberi, berupa seekor ayam ataupun uang koin, yang diberikan ke warga usai menggelar tradisi Nyadran,” jelas Yulius.
Sementara diakhir Tradisi Nyadran, warga menutupnya dengan acara menabur bunga tujuh rupa, dan setelahnya makan bersama di area tempat pemakaman umum.
Tradisi Nyadran, tak hanya digelar di Desa Jetak, ada juga di tiga Desa lainnya yakni, Desa Ngadisari, Wonotoro, dan Ngadas, Kecamatan Sukapura. (Zulkiflie)
Wagata Berita wagata berita adalah website yang berisikan berita-berita terkini.