Sabtu, 25 Juli 2026, 9:11
Home / NEWS / SANTRIWATI GENGGONG JUARAI AJANG “PCCST INTERNATIONAL FAIR” DI THAILAND

SANTRIWATI GENGGONG JUARAI AJANG “PCCST INTERNATIONAL FAIR” DI THAILAND

WAGATABERITA.COM-PROBOLINGGO, 3 siswi SMA Unggulan Haf-Sa, Zainul Hasan Genggong, Kabupaten Probolinggo berhasil mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.

Mereka berhasil memborong dua kejuaraan sekaligus di ajang international di Phatthalung, Thailand yakni “PCCST International Science Fair”.

Juara pertama dipertandingkan di Provinsi Phatthalung, dan yang juara kedua di Provinsi Satun, negara Thailand.

Sementara produk yang dibawa santriwati ini yakni ‘Beras Analog’. Pertandingan karya ilmiah sendiri berlangsung sekitar 3 hari pada pekan lalu, dimana akhirnya pulang ke tanah air pada Senin (21/01/2019).

Tiba di sekolahnya, tiga santriwati berprestasi ini yakni Kamsiyah Naili, Nanik Nur Laila, Cahyaning Fitrialy Aisyah dan guru pembinanya Yenny Rahma langsung disambut bahagia oleh ribuan santri Ponpes Zainul Hasan Genggong.

Ketiganya langsung dikalungi bunga, oleh Pengasuh Ponpes Zainul Hasan Genggong, KH Mutawakkil Alallah. Atas prestasi santrinya itu, KH Mutawakkil menyampaikan kebanggannya atas capaian yang berhasil diraih.

Beras Analog yang diciptakan 3 santriwati SMA Unggulan Haf-Sa, Zainul Hasan Genggong, ternyata terbuat dari Umbi Suwek, Daun Kelor dan Tepung Sagu.

Ketiga bahan alami, yang mudah didapatkan di daerah Probolinggo itu, nyatanya mampu menunjukkan khasiatnya sekaligus menghantarkan para santriwati ZAHA sebagai juara ajang “PCCST International Science Fair” di Thailand.

Untuk pembuatan beras analog karya santriwati ZAHA ini, tergolong sangatlah mudah. Ketiga bahan yang berasal dari alam itu, seluruhnya dihaluskan menggunakan mesin penggiling.

Setelah semuanya halus, ketiga bahan yang telah berbentuk serbuk itu kemudian dicampurkan dalam satu wadah dengan perbandingan 70 persen Suwek, 7 persen Daun Kelor dan 30 persen Tepung Sagu.

Kemudian ditambahkan air dan diaduk hingga seluruhnya menyatu, serta sedikit memadat menjadi sebuah adonan. Barulah setelahnya, adonan beras analog itu dipress menggunakan mesin pencetak, sampai berbentuk buliran beras.

Buliran-buliran beras analog yang sudah jadi itupun, kemudian dikeringkan hingga mengeras menggunakan open.

Santriwati, Kamsiyah Naili mengatakan, jika dalam proses memasak beras analog, hampir sama dengan memasak beras pada umumnya. Yang berbeda yakni, teknik memasaknya yang menggunakan cara dikukus.

“Rasa sih sama pak, hanya terasa lebih hambar. Tapi kalo kandungan vitamin dan gizinya lebih tinggi. Dan yang jelas, lebih rendah kandungan gulanya,”ungkap Kamsiyah.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Zainul Hasan Genggong, KH Mutawwakil Allah sangat mengapresiasi karya santriwatinya tersebut. Pasalanya, selain menjuarai karya ilmiah internasional.

Beras analog karya santriwati, sangat berguna bagi masyarakat karena memiliki khasiat sebagai terapi pencegahan dah penyembuhan bagi penderita Diabetes serta Kanker.

“Syukur alhamdulillah karya santriwati yang membanggakan ini, menjadi kado istimewa bagi Ponpes ZAHA yang kini Ultah ke 180 tahun. Saya harap kedepan, para santri tak hanya diinstal iman tapi juga akhlaknya agar ilmu yang mereka dapat bermanfaat,”paparnya.

Sementara karya beras analog santriwati ZAHA ini, berhasil menumbangkan 26 tim dari 4 negara di Asia Tenggara di ajang “PCCST International Science Fair” di Thailand. (Zulkiflie)

Check Also

USAI DIBENTUK INI KEGIATAN PERTAMA PENGURUS PP IWO

WAGATABERITA.COM – JAKARTA. Jajaran Pengurus Pusat Ikatan Wartawan Online (PP IWO) yang terbentuk beberapa waktu …