WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Seminar dan webinar dengan tajuk ‘Puan Bangkit Hadapi Resolusi Pasca Pandemi’ diadakan panitia International Women’s Day dalam rangka peringatan Hari Perempuan Internasional dilaksanakan di Teras Belakang Rumah, Rungkut Surabaya dimana diikuti pula sekira 16p partisipan secara daring. Minggu, (07/03/2021).
Selain kesehatan diketahui pandemi juga mengguncang keberlangsungan bidang ekonomi, sosial, hingga budaya, perempuan tergolong yang paling terdampak sehingga seminar dan webinar ini fokus membahas permasalahan perempuan dimasa pandemi termasuk solusi menanggulangi permasalahan.
Salah satu pembicara Wiwik Afifah, S.Pi, SH., MH, mengatakan banyak perempuan yang di PHK akibat pandemi, “perempuan sering kali hanya dianggap sebagai pencari nafkah tambahan dan kemampuannya tidak dihargai di tempat kerja, sehingga menjadi sasaran empuk PHK, pandemi juga memunculkan temuan positif, perempuan juga mulai berdaya,” terangnya.
Ditambahkan beberapa kelompok perempuan saat ini mulai menanam sendiri bahan makanan juga semakin sadar teknologi dan digunakan untuk mencari pemasukan baru sehingga pandemi menjadikan beberapa kelompok perempuan semakin berdaya dan berdaulat.
Sementara Pinky Saptandari, Dra.MA, dosen kajian gender FISIP Unair selaku pemateri mengatakan, “diri, khususnya perempuan, perlu untuk memiliki otonomi keuangan, otonomi mobilitas, dan otonomi pengambilan keputusan. Jika otonomi telah dimiliki, maka menjadi diri yang bebas dan berdaulat dapat dicapai,” ungkapnya.
Dr. Dra. N.K. Endah Triwijati, MA, pendiri Savy Amira mengatakan, “istilah ‘emosi’ sering kali dipandang negatif, padahal dengan mengenali ragam emosi, kita mampu memberikan respon yang tepat saat menghadapi suatu peristiwa,” jelasnya.
Dimasa pandemi kasus kekerasan pada perempuan disebut meningkat tajam, angka kasus perceraian (baik talak maupun gugat) telah mencapai angka 55.000 kasus di akhir tahun 2020 dan kekerasan rumah tangga menjadi salah satu penyebab terbesar.
“Dukungan orang – orang terdekat menjadi hal yang sangat penting untuk keluar dari lingkaran kekerasan domestik. Maka dari itu, menciptakan lingkungan yang nyaman dan kondusif sangatlah penting, sebagai perempuan, penting bagi kita untuk mandiri, berjejaring, berdaya, sehingga kita mampu menghadapi tantangan yang akan datang,” ungkap Syska La Veggie, perwakilan IWD Surabaya.
Seluruh pemateri pada akhir seminar setuju memperjuangkan dan memberdayakan kaum marjinal, khususnya perempuan adalah perjuangan yang berkelanjutan, “penting untuk mengadakan upaya – upaya penguatan perempuan, dan memberi platform untuk perempuan bisa menyuarakan pikiran dan pendapatnya, sehingga mampu memunculkan ketangguhan dan otonomi,” kata Pinky.
Wiwik juga menekankan setiap perempuan punya potensi menjadi penggerak, potensi menjadi kuat, “ayok kenali diri kita, sayangi diri kita untuk menggali potensi diri kita yang lain. Gali pula potensi dari perempuan lain, yang masih terjerat di lingkaran kemiskinan, dan perkawinan anak, karena kita perlu bermanfaat untuk lingkungan,” ajaknya.
Dijelaskan perayaan Inaternational Women’s Day kali ini mengadaptasi format baru, “saat ini menggunakan format baru. Karena pandemi, kami tidak bisa melakukan long march, sehingga perayaan dilakukan secara daring, yang bisa dihadiri undangan terbatas saja. Dengan komposisi anggota yang lebih independen dan terbuka untuk relawan, namun tetap mengusung dan memperjuangkan tujuan yang sama; support women,” tutup ketua pelaksana Syska La Veggie. (Red)
Wagata Berita wagata berita adalah website yang berisikan berita-berita terkini.