Jumat, 16 November 2018, 4:34
Home / NEWS / TOL SUMO DIHARAPKAN MAMPU MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

TOL SUMO DIHARAPKAN MAMPU MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

WAGATABERITA.COM – SIDOARJO. Gubernur Jatim H. Soekarwo menuturkan peresmian jalan Tol Surabaya – Mojokerto (Sumo) diharapkan menjadi bagian dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jatim. Alur distribusi barang yang masuk maupun keluar dari Jatim akan menjadi lebih lancar dan tidak mengalami kendala apapun.

Itu disampaikan Gubernur Jatim, H. Soekarwo saat mendampingi Presiden Joko Widodo pada acara Peresmian Pengoperasian Jalan Tol Surabaya – Mojokerto Seksi IB, II dan III (Sepanjang – Krian) di Gerbang Tol Warugunung, Kabupaten Sidoarjo, Selasa (19/12/2017).

Dalam siaran pers yang dikirim Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Jatim Benny Sampir Wanto menyebutkan, Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jatim itu menyebutkan, menjamin keberadaan jalan tol Sumo ditunggu lama oleh masyarakat sejak tahun 1994. Dengan adanya Jalan Tol Sumo akan memangkas waktu perjalanan Surabaya ke Mojokerto dari dua jam menjadi 40 menit. Dengan demikian, maka arus barang, transportasi yang menghubungkan wilayah di sekitar akan terbantu. “Secara tidak langsung akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perekonomian Jatim,“ ungkap Pakde Karwo.

Gubernur Jatim menuturkan, dengan diresmikan Jalan Tol Sumo akan mendorong peresmian jalan tol lainnya di Jatim. Saat ini ada beberapa proyek jalan tol di Jatim mulai barat sampai timur, yaitu Kertosono – Mantingan, Mantingan – Ngawi progres sudah 80 persen, Ngawi – Wilangan progres 96 persen, Wilangan – Kertosono 39,44 persen. Kemudian untuk jalan tol Kertosono – Mojokerto sudah beroperasi, Gempol – Pasuruan, Surabaya – Probolinggo progres 50 persen, Pandaan – Malang progres 36 persen. “Diharapkan pada akhir tahun 2018 semua jalan tol akan selesai dan bisa digunakan,” jelasnya.

Tol Sumo memiliki panjang 36,27 km dan telah diresmikan oleh Presiden RI Jokowi untuk seksi IB Sepanjang – WRR 4,3 km, Seksi II WRR – Driyorejo 5,1 km dan Seksi III Driyorejo – Krian 6,1 km. Pengoperasian ketiga seksi ini menyusul dua seksi Jalan Tol Sumo yang telah dioperasikan terlebih dahulu, yaitu Seksi IA sepanjang 2,3 Km (Waru – Sepanjang, diresmikan Agustus 2011), serta Seksi IV sepanjang 18,47 Km (Krian – Mojokerto, diresmikan Maret 2016).

Berdasarkan data Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Tol Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) untuk seksi IA dikeluarkan sejak 18 April 2007, setelah dilakukan penandatanganan perjanjian pengusahaan jalan tol (PPJT) dengan badan usaha pada April 2006. Kemudian, seksi IV dari Krian ke Mojokerto sepanjang 18,47 km mulai dibangun pada Juni 2012 dan diresmikan pengoperasiannya oleh Presiden Jokowi pada Maret 2016 lalu. Sementara seksi IB mulai dikerjakan pada Mei 2014 dan seksi II dan III dikerjakan sejak November 2015.

Kini tiga seksi terakhir itu akan bisa dijajal setelah diresmikan pengoperasiannya oleh Jokowi. Pengoperasian Jalan Tol Surabaya – Mojokerto Seksi IB, Seksi II, dan Seksi III ini menyusul surat keputusan laik jalan yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan Nomor AJ.409/1/9/DRJD/2017 tanggal 1 November 2017, dan Berita Acara Evaluasi Laik Fungsi Nomor BA.202.2/BPJT/JL.03.04/2017 tanggal 27 Oktober 2017.

Jalan tol yang membentang dari Kota Surabaya hingga Kota Mojokerto ini dikelola oleh PT Jasamarga Surabaya Mojokerto (PT JSM) yang merupakan anak usaha PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Nilai investasi jalan tol yang melewati 4 wilayah kota/kabupaten ini mencapai Rp 4,9 triliun dengan kepemilikan mayoritas saham sebesar 55% oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk, 25% oleh PT Moeladi, dan 20% oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.

Selain membangun jalan tol sebagai bagian dalam rangka mengungkit dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pemerintah pusat juga diharapkan untuk menggarap Jalur Lintas Selatan (JLS) Jatim. JLS terbentang mulai dari Banyuwangi, Jember, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek dan Pacitan.

Banyak potensi yang bisa digali dari JLS, selain potensi wisata, juga akan meningkatkan perekonomian masyarakat di pesisir selatan. Sebagai contoh, potensi wilayah selatan adalah kekayaan lautnya yang masih belum tergali, salah satunya adalah keberadaan ikan tuna sirip kuning. “Di Pacitan produksinya sekitar 7 ribu ton per tahun. Apabila JLS tergarap, bukan tidak mungkin perekonomian wilayah selatan Jatim ikut naik,” ujar Pakde Karwo.

Selain itu, menurut penelitian, kandungan emas dan pasir besi di wilayah selatan cukup besar. Sehingga apabila digarap dengan serius bisa menjadi lahan pekerjaan baru bagi masyarakat.

Sementara itu, Presiden RI, Joko Widodo menargetkan jalan tol dari Merak sampai Banyuwangi dengan panjang 1.167 km bisa selesai pada akhir tahun 2019. Permasalahan pembangunan jalan tol disetiap wilayah hampir sama, yaitu pembebasan lahan.“ Tidak ada alasan pada akhir tahun 2019 harus selesai dan bisa difungsikan agar ekonomi Jawa bisa meningkat,” ungkapnya.

Saat ini, tol di Jawa yang sudah beroperasi sepanjang 541 km, dalam proses kontruksi 433 km dan tahap persiapan 171 km. Sedangkan di Jatim sepanjang 268 km. Apabila jalan tol di Jawa sudah beres, kemudian akan dibangun jalan tol di wilayah lain. Sebagai contoh, sudah dimulai Jalan Tol Trans Sumatera, kemudian disusul di Lampung, Palembang dan Medan. “Salah satu fungsi dari dibangunnya jalan tol adalah meningkatkan daya saing dan efisiensi,” jelasnya. (Haludin Ma’waledha)

Check Also

TINGKATKAN PAD, DINAS PARIWISATA TRENGGALEK NAIKAN HARGA TIKET KAWASAN WISATA

WAGATABERITA.COM – TRENGGALEK. Guna meningkatkan Pendapat Asli Daerah di Kota

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *