Selasa, 20 November 2018, 18:29
Home / ENTERTAINMENT / EVENT / ASAL MUASAL LEBARAN KETUPAT DI KECAMATAN DURENAN
KH Abdul Fattah Muin Saat Bercengkrama Dengan Plt Bupati Trenggalek M. Nur Arifin.

ASAL MUASAL LEBARAN KETUPAT DI KECAMATAN DURENAN

WAGATABERITA.COM – TRENGGALEK. Lebaran ketupat atau kupatan memang dimulai dikenal atau diawali dari kawasan timur Trenggalek tepatnya di

Kecamatan Durenan. Tradisi tersebut berawal dari salah satu tokoh sekaligus sesepuh bernama Mbah Mesir yang  selalu rutin menjalankan ibadah puasa Sunnah Syawal atau yang akrab dikenal dengan Nyawal. Selama menjalankan puasa sunah enam hari setelah lebaran pertama tersebut, tokoh agama ini tidak menggelar Open House layaknya masyarakat lainnya.

“Awalnya tradisi open house ini hanya dilakukan disatu rumah saja, yakni di rumah kakek saya yang bernama Mbah Kyai Abdul Maysir atau biasa di panggil Mbah Mesir. Kemudian warga yang ada di sekitar mulai mengikuti tradisi tersebut,” terang tokoh agama setempat KH Abdul Fattah Muin, Sabtu (23/06/2018).

Seiring perkembangan waktu, masyarakat sekitar yang mengetahui kebiasaan sang kiai tersebut mengikuti tradisi tersebut dan melakukan hal yang sama dengan menggelar perayaan Idul Fitri pada saat Lebaran Ketupat.

Diakui cucu Mbah Mesir ini, bahwa dirinya bersyukur atas tradisi turun temurun yang masih tetap terjaga dan lestari sampai saat ini. Kyai Fattah juga mengapresiasi adanya Lebaran Ketupat yang dilakukan di beberapa daerah. Namun, pemimpin salah satu pondok pesantren ini mengaku tidak sepakat apabila Lebaran Ketupat dikemas dengan berbagai hiburan dan keramaian lain.

“Kalau di daerah lain silahkan mengadakan perayaan lebaran ketupat dengan menyuguhkan pertunjukkan atau hiburan akan tapi untuk wilayah Durenan lebih baik dibiarkan apa adanya, karena orang yang mau kesini ini tujuannya hanya satu yakni bersilaturrahmi. Tanpa hiburanpun tetap ramai,” imbuhnya.

Yang paling menjadi rujukan utama pengunjung saat perayaan lebaran ketupat, yakni Kediaman KH Abdul Fattah Muin di Desa Durenan, Kecamatan Durenan.

Mengingat, di pondok Pesantren Babul Ulum inilah cikal bakal tradisi Lebaran Ketupat Durenan dikembangkan. Tradisi kupatan ini biasanya digelar pada hari ketujuh bulan Syawal.

Semula Kupatan Durenan hanya dilakukan ahlul bait Bani Masir atau Mbah Mesir. Namun, tradisi ini sudah merambah ke desa – desa lain, seperti di Desa Ngadisuko, Kendalrejo, Semarum, Pakis dan Pandean di Kecamatan Durenan serta kecamatan Trenggalek kota tepatnya di Kelurahan Kelutan.

Sebagai kiai terkenal, KH Abdul Masyir memiliki hubungan erat dengan kanjeng Bupati Trenggalek saat itu. Karena keakrabannya ini, setiap usai shalat Idul Fitri, Mbah Mesir selalu diundang Bupati ke pendopo.

Tetapi Mbah Mesir biasanya menjalankan puasa Syawal selama enam hari berturut – turut, dan setelah itu pulang ke rumahnya di Durenan.

“Saat itulah, biasanya para santri dan warga sekitar berdatangan untuk silaturrahmi lebaran kepada Mbah Mesir,” ungkap KH Abdul Fattah Muin.

Sepeninggal Mbah Mesir, tradisi kupatan diteruskan anak cucunya. Hingga sekarang, tradisi kupatan masih terus berlangsung.

KH Abdul Masyir atau Mbah Mesir pada zamannya merupakan salah satu pejuang yang ikut mengusir penjajah. Ia berhasil mempersatukan rakyat Durenan yang saat itu sempat terjadi permusuhan antara satu sama lain. (Ayu Mila Sari)

Check Also

POLRES TRENGGALEK AKAN GELAR FESTIVAL MUSIK PATROL BAGI ANGGOTANYA

WAGATABERITA.COM – TRENGGALEK. Kepolisian Resort Trenggalek kembali akan menggelar Ajang Festival Musik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *