Senin, 22 Oktober 2018, 9:13
Home / JAKARTA / PUISI DENNY JA SAHUR HARI KETUJUH ‘KAMPUNGKU SAYANG, KAMPUNGKU CELAKA’

PUISI DENNY JA SAHUR HARI KETUJUH ‘KAMPUNGKU SAYANG, KAMPUNGKU CELAKA’

WAGATABERITA.COM – JAKARTA.

Dua puluh tahun berlalu
Darta kembali ke kampung halaman
Rindu keriangan masa remaja
Hangat kasih sayang para warga

“Oh kampungku
Aku kembali
Tempat ku dilahirkan
Tempat kali pertama
Kukenal persahabatan.”

Depot kopi masih seperti dulu
Ramai bercakap para pengunjung
Namun kini mereka berkelompok
Seolah ada dinding tinggi
Di sini kita
Di situ mereka

Pantai masih seindah dulu
Ramai pengunjung bersapa
Tapi canda tak lepas
Tawa tak buncah
Ada kelompok kita
Ada kelompok mereka
Terasa aura membatasi
Permusuhan tersembunyi

Darta mencari grup sepuluh
Mereka selalu bersama
Oh, dua puluh tahun sudah
Kumpul di beranda Masjid
Berlari di halaman Gereja
Dimana mereka kini?

Terdengar kabar
Grup sepuluh pecah sudah
Sahabat tak lagi tegur sapa
Sebagian kelompok kita
Sebagian kelompok mereka

Darta kumpulkan mereka
Sia sia
Bersepuluh duduk satu meja
Tapi jiwa saling tolak
Bercakap seperti biasa
Tapi kaku
Mata saling curiga

Di antara mereka
ada yang rusak Gereja
Ada yang serang Masjid

Ada apa kampungku?
Darta terpana cari tahu
Bertambah kios dan Mall
Tapi kemana perginya keakraban?
Mengapa hilang kehangatan?

Terkumpul cerita
Sejak sepuluh tahun lalu
Banyak senior pulang rantau
Tak sedikit pula para pendatang
Beri ceramah agama
Pelatihan politik
Tumbuhkan pemimpin

Dartapun datang ke sana
Mendengar ceramah
Ikut pelatihan politik
Berjumpa para pemimpin

Senja itu Darta duduk di Mushola
Renungkan segala
Menyelami belukar hingga ke akar

Itu awal perkara
Agama memang mencerahkan.
Tapi di tangan yang kurang pengetahuan, ia justru memecah (2)

Politik memang suci
Tapi jika salah visi, ia justru membelah (3)

Pemimpin memang menyatukan.
Tapi jika kurang keikhlasan, Ia justru bahaya (4)

Cerdik pandai memang menumbuhkan
Tapi jika tiada cinta, Ia justru buta (5)

Kampungku sayang
Kampungku malang
Semakin ramai barang – barang
Semakin hilang persahabatan
Tawar, tak berjiwa (6)

Darta memang kembali ke sana.
Tapi kampung halaman,
sudah tiada.

CATATAN KAKI

1. Puisi esai mini ini dialog saya dengan Juz 7 Al Quran, Q. 5 : 82 – Q. 6 : 110

2. Dalam setiap masyarakat, peran seorang pemimpin formal (dalam pemerintahan) ataupun informal (di luar pemerintahan) sangat penting. Pengaruhnya ikut membentuk bulat dan lonjong masyarakat.

Sangatlah celaka sebuah bangsa jika bangsa itu dipimpin dan diarahkan oleh ia yang tak memiliki pengetahuan yang cukup, atau kompetensi yang memadai. Lalu dengan pengaruhnya, ia memberi arah yang salah, yang justru membawa masyarakat menjadi buruk.

Dalam bahasa metaforik, karena tidak kompeten, ia “mengharamkan apa yang halal, dan menghalalkan apa yang haram.” Apalagi memaksakan visinya yang salah itu dengan kekerasan.

Hai orang – orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa – apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Q.5 : 87

3. Akan celaka pula sebuah bangsa, jika pemimpin itu secara sadar ataupun tidak memberikan masyarakat sebuah orientasi yang salah, yang dikiaskan “menyembah Tuhan – Tuhan kecil,” yang bukan jalan kebenaran. Orientasi yang salah itu dikiaskan dengan kompetitor Allah sebagai pelindung.

Katakanlah : “Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi.

Katakanlah : “Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali – kali kamu masuk golongan orang musyrik.” Q. 6 : 14

4. Akan celaka pula satu bangsa yang mengkultuskan pemimpinnya, seolah Dewa yang tak bisa salah, dan mensejajarkannya seperti Rasul Tuhan. Apalagi jika pemimpin bukan jenis ia yang memberikan pencerahan atau “kabar gembira.”

Dan tidaklah Kami mengutus para Rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Q. 6 : 48

5. Lebih celaka lagi sebuah bangsa jika pemimpinnya tahu apa yang benar, lalu memanipulasinya untuk kepentingan lain.

Dan orang – orang yang mendustakan ayat – ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Q. 6 : 49

6. Perubahan bisa dikerjakan jika ada individu yang mampu dan berani menyatakan apa yang benar. Ia tak takut pada kekuasaan manusia sehebat apapun sistem kekuasannya. Itu sangat terbantu, jika individu meyakini, di atas kekuasaan manusia yang paling berkuasa sekalipun, hadir yang maha kuasa, yang adil dan maha mengetahui.

Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba – hamba – Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
Q. 6 : 18

(Red/IWO, Rabu 23/05/2018)

Check Also

PRIHATIN GEMPA SULTENG IWO AKAN BUKA POSKO KEMANUSIAAN DI MAMUJU

WAGATABERITA.COM – JAKARTA. Gempa bumi besar terjadi di wilayah Sulawesi Tengah,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *