Senin, 22 Oktober 2018, 9:21
Home / JAKARTA / PUISI DENNY JA : SAHUR HARI KE EMPAT BELAS, SUARA SANG GURU (1)

PUISI DENNY JA : SAHUR HARI KE EMPAT BELAS, SUARA SANG GURU (1)

WAGATABERITA.COM – JAKARTA.

Di kawasan air berlumpur
Dapat tumbuh teratai putih,
bersih dan suci
Di kumpulan amarah buta
Dapat tumbuh spirit cinta
Teduh dan kasih

Darta terpana
Mendengar petuah pak Tua
Dari negeri seberang sana
Ia asal India

Pak Tua terus berkisah
Kadang ia seka air mata
Cerita dari hati
Renungan nurani

Ujar Pak Tua :
Tahun 47, awal perkara
Usiaku masih bocah
Negara pecah menjadi dua
Sejuta muslim pergi ke Barat
bentuk Pakistan
Sejuta Hindu pergi ke Timur
Dirikan India
Aku disana
Digendong Ayah
dituntun Ibu

Massa berpapasan
Lelah dan lapar
Hidup tak pasti
Marah campur benci

Hanya satu sahutan
Massa tawuran
Semua lawan semua
Semua bunuh semua
Melayang nyawa berjuta (2)

Ya Allah
Aku dengar banyak suara
Rintihan
Tangisan
Lalu gelap
Tak lagi kuingat

Setelah dewasa aku mengerti
Apa yang terjadi

Seorang Ayah beragama Hindu
datang menghadap Guru :
“Bapuk, jiwaku celaka
Anakku bocah satu – satunya
Mati terinjak di sana
Aku buta
Kubunuh pula bocah muslim
Mata balas mata

Aku tertawa
Tapi kini batinku tersiksa
Selamatkan jiwaku, guru” (3)
Harus apa aku?

Sang Guru diam lama
Sedih tak terkira
Menetes air mata
Tenangkan sukma
Tunduk kepala
Memilih kata

Lantang Guru beri petuah
Hanya ini selamatkan jiwa
Kau cari bocah muslim
Sebaya dengan bocahmu
Sayangi ia seperti anakmu
Didik ia sebagai Muslim
Walau dirimu Hindu sejati

Tapi bapak, Muslim musuh kita?
Jawab guru
Jika ingin sucikan Jiwa
Kau harus hijrah
Jadikan Muslim anakmu
Anak kesayanganmu

Ayah itu mencari bocah Muslim
Yatim lagi piatu
Ia sayangi bagai anak sendiri
Ia carikan guru mengaji

Bocah itu bertanya
Ayah aku ingin seperti Ayah
Menjadi Hindu saja
Ayah melarang itu bocah

Tetaplah pada agamamu
Nanti kau mengerti
Teruslah mengaji
Jadilah Muslim sejati

Bocah itu adalah aku
Kusaksikan keajaiban
Hidupku dikasihi
Aku jadi saudagar
Ditunjuk jadi pejabat

Kini tua sudah usia
Kutemui banyak manusia
Paling mulia di antara semua
Tumbuhkan benih sukma

Bukan yang paling kuasa
Bukan yang paling banyak harta
Tapi yang ajarkan cinta

Darta semakin terpana
Berlalu sudah pak Tua
Tapi ia punya kisah
Di hati jadi permata

Selalu terngiang itu petuah (4) :
Berikan rasa hormat ekstra
Bukan kepada yang berkuasa
Bukan untuk yang banyak harta
Tapi kepada yang tumbuhkan cinta

CATATAN KAKI

1. Puisi esai mini ini dialog saya dengan situasi, dan diinspirasi oleh satu prinsip di Juz 14, AlQuran.

2. Berpisahnya India dan Pakistan di tahun 1947 diwarnai migrasi jutaan penduduk. Migrasi ini tercatat paling besar dalam sejarah. Ia migrasi yang sektarian pula : muslim ke satu wilayah. Penganut Hindu ke wilayah sebaliknya.

3. Ini cuplikan percakapan terkenal Mahatma Gandhi.

4. Berikan hormat yang ekstra bukan kepada mereka yang berkuasa, yang banyak harta, tapi kepada mereka yang memperjuangkan keadilan, kebenaran, kepada orang yang beriman.

Janganlah sekali – kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka. Berendah dirilah kamu terhadap orang – orang yang beriman, Q.15 : 88. (Red/IWO, Rabu 30/06/2018)

Check Also

PRIHATIN GEMPA SULTENG IWO AKAN BUKA POSKO KEMANUSIAAN DI MAMUJU

WAGATABERITA.COM – JAKARTA. Gempa bumi besar terjadi di wilayah Sulawesi Tengah,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *