WAGATABERITA.COM – JAKARTA. Bagi seorang penulis (sastra maupun popular) bathin yang diketuk adalah kode untuk mulai menulis. Sudah lama sekali, ada yang mengetuk – ngetuk dan saya berupaya untuk tuli. Berpura – pura tak mendengar, itu menyakitkan tentu saja.
Lalu ketukan itu lantas mengeras dan berubah menjadi gedoran. Memaksa saya untuk mendengar. Memaksa saya untuk menulis. Sejatinya saya khawatir, saya termasuk golongan penyair yang disebut Allah dalam Surat Asy – Syu’ara (QS. 26 : 226) “Dan bahwa mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan.”
Kepekaan sebagai seorang penyair tentu saja lebih tajam, dan kata – kata dari hasil kepekaan yang tajam sangat mampu untuk menebas apapun. Termasuk didalamnya ketidakadilan. Namun yang paling penting (bagi saya) adalah pelaksanaan dari kata – kata yang saya tulis. Ya benar, senjata saya sebagai seorang penulis (penyair) adalah kata – kata, namun penggunaannya harus benar. Atau senjata tersebut akan jadi makan tuan.
- TULISAN DENNY JA : ANAK YATIM ITU MENJELANG LEBARAN
- TULISAN DENNY JA : BOCAH ITU PUN TEWAS KETIKA ANTRI SEMBAKO DI MONAS
- RENUNGAN SINGKAT DENNY JA TENTANG JOKOWI DAN KEAJAIBAN POLITIK PILPRES
- CERITA DENNY JA TENTANG RAKSASA PEMIKIR KARL MARX DAN ENGELS
- PENDAPAT SEORANG JEIRRY SUMAMPROW TERKAIT HAK POLITIK MANTAN KORUPTOR
Hari itu lantas datang, kembali saya katakan, Denny JA memberi saya kesempatan untuk melaksanakan kata – kata. Bagai macan yang selama ini terkurung disangkar dan hanya bisa mengaum keras, mendadak saya dikeluarkan. Saya lantas bisa berlari, melompat, melejit, dan tentu saja tetap bisa mengaum.
Program “PUISI ESAI BERBAGI BERSAMA ANAK YATIM DARI SABANG SAMPAI MERAUKE” adalah kunci untuk membuka gembok jeruji yang selama ini mengurung saya. Jeruji yang selama ini membuat saya hanya bisa mengaum keras dan ditonton dari luar sangkar. Kini saya keluar dan bergabung. Kini saya ada didalam teriakan yang saya suarakan. Kini saya berbuat dan tak hanya mengatakan lewat tulisan. Untuk hal itu, saya sepenuhnya mengatakan “Terimakasih pak Denny Januar Ali.”

Ini bukan tentang Denny JA yang memiliki uang untuk men-suport pendanaan program ini. Tapi ini tentang Denny JA yang MAU untuk mendukung saya berbuat nyata. Percayalah, diluar sana, ada yang sama mampu – nya namun belum terketuk untuk berbuat.
Apakah program berbagi ini hanya akan di mediai oleh uang? BIG NO!!! Puisi esai berbagi, adalah aksi konkret dari sebuah puisi yang dilaksanakan langsung. Saat saya ikut bermain dengan anak – anak di panti asuhan tersebut, bukan uang yang bicara. Mereka tersenyum saat merasakan bahwa kita ikut bahagia.
Yah, artinya bukan masalah punya uang atau tidak punya. Melainkan mau atau tidak mau. Denny JA melalui puisi esai nya, telah membuktikannya. Ia mau berbuat! (Red/IWO)
Wagata Berita wagata berita adalah website yang berisikan berita-berita terkini.