WAGATABERITA.COM – JEMBER. Tembakau menjadi idola petani di musim kemarau seperti saat ini. Namun sayang, tidak semua petani di Jember bercocok tanam bahan dasar rokok ini.
Marsudi (65), salah satu petani asal Kalisat, Jember mengatakan, banyak petani yang enggan menanam tembakau karena pengalaman dua tahun terakhir yang kurang memuaskan.
Pada 2015 banyak tanaman tembakau milik warga Jember yang rusak karena terkena abu vulkanik letusan Gunung Raung. Sedangkan pada 2016, banyak petani yang gagal panen karena curah hujan tinggi.
“Di wilayah Jember Utara, petani yang menanam tembakau turun 50 persen dibandingkan tahun kemarin,” kata Marsudi, Kamis (29/06/2017).
Faktor lain yang membuat petani tak menanam tembakau karena tidak punya modal.
“Banyak yang beralih menanam lombok atau jagung. Lebih mudah merawatnya, murah dan resiko kegagalannya rendah,” kata Marsudi.
Marsudi berharap, pemerintah bisa memberikan pinjaman lunak kepada petani tembakau.
Marsudi menjelaskan, modal yang dibutuhkan untuk menanam tembakau jenis kasturi minimal sebesar Rp 12 juta. Tembakau jenis ini banyak digunakan pabrik besar dalam negeri untuk membuat rokok.
“Modal sebesar itu untuk lahan dengan luas satu hektar. Dalam satu hektar bisa ditanam 12 sampai 15 ribu batang pohon tembakau. Tapi di sini (Kalisat dan sekitarnya, red) nggak ada petani yang punya lahan sampai satu hektar,” terang Marsudi.

Marsudi menuturkan, musim tanam tembakau biasanya dimulai pada bulan Mei. Setelah tiga sampai lima bulan, tembakau bisa dipanen.
Jika curah hujan sedikit, daun tembakau akan bagus. Petani bisa memanen dua ton tembakau kering dengan nilai Rp 40 juta.
“Para petani berharap pada keberhasilan panen. Kalau harga sudah ada standarisasi. Yang menentukan kualitas tembakaunya,” jelas Marsudi.
Marsudi optimis tahun ini cuaca akan mendukung. “Kalau dari tanda – tanda alam, saya memprediksi kemarau tahun ini bisa membuat tembakau bagus,” ungkapnya.
Namun, ada satu lagi yang membuat petani tembakau resah, yaitu makelar atau yang biasa disebut dengan blandang. Para blandang ini terkadang menunggak pembayaran kepada petani sampai setahun lamanya. (Anggun)
Wagata Berita wagata berita adalah website yang berisikan berita-berita terkini.