Rabu, 10 Juni 2026, 17:03
Home / PROBOLINGGO / KARO SUKU TENGGER SUCIKAN JIMAT KLONTONGAN
Camat Sukapura, Yulius Christian Rabu (06/09/2017), Sumber Foto : Zulkiflie

KARO SUKU TENGGER SUCIKAN JIMAT KLONTONGAN

WAGATABERITA.COM – PROBOLINGGO. Jelang hari raya Karo yang jatuh pada Kamis besok, Rabu (06/09/2017), puluhan warga suku Tengger, kecamatan Sukapura, kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, melakukan ritual penyucian jimat Klontongan.

Ritual penyucian, dilakukan di rumah tokoh adat suku Tengger. Sejumlah sesaji berupa hasil bumi, disiapkan warga sebelum memasuki prosesi penyucian. Dipimpin dukun Pandita suku Tengger, ritual dimulai dengan penyucian rumah warga Tengger yang akan menggelar perayaan Karo, serta diikuti kemudian ritual Mbeduduk.

Dalam ritual penyucian, dukun Pandita membaca doa di dalam rumah dengan menghadap ke arah selatan, di depan sesaji. Sedangkan ritual Mbeduduk, dukun Pandita membaca doa di depan pintu masuk rumah menghadap arah barat.

Rangkaian berikutnya, ritual Banten. Ritual ini adalah, mendoakan seekor sapi yang disiapkan untuk disembelih, dan kepalanya sebagai persembahan hari raya Karo. Sebelum disembelih, sapi dibacakan doa dan disiram air suci oleh dukun Pandita.

Dan memasuki acara inti, yakni mengeluarkan jimat Klontongan dari tempat penyimpanan, yang lokasinya berada di atas asbes rumah. Jimat Klontongan diantaranya, 8 buah Sodor (bambu panjang 3 meter), 2 buah Cepel (tempat air), 4 buah Sarak (tanduk kerbau), 1 buah kendi, 2 pasang gayung, dan 1 buah celengan.

“Jimat Klontongan ini hanya bisa dikeluarkan, dan digunakan 1 tahun sekali yaitu pada saat Sodoran, momen hari raya Karo,” kata Supoyo, tokoh warga suku Tengger.

6 benda suci itu, lantas dimasukkan ke dalam 2 pembungkus. Untuk Cepel, Sarak, Kendi, dan Celengan dimasukkan dalam Tumbun (keranjang). 2 buah gayung dimasukkan dalam kotak kayu persegi panjang. Sedangkan 8 buah Sodor, tidak dimasukkan dalam pembungkus.

Sejumlah Benda Pusaka Yang Disucikan, Rabu (06/09/2017), Sumber Foto : Zulkfilie

Usai didoakan, ke 6 benda suci lalu dibawa menuju Punden, (Danyang atau tempat untuk memandikan 6 benda suci). Selama perjalanan dari rumah tokoh adat, menuju Punden 6 benda suci diarak dengan iringan musik tradisional yang dimainkan oleh sekitar 8 orang.

Setibanya di Punden, dukun Pandita kembali berdoa diikuti pengisian air bercampur bunga melati ke 2 buah Cepel. Sejumlah benda suci itu lantas, dicuci dengan air dalam Cepel.  Selain dukun Pandita, warga secara bergantian ikut mencuci 6 benda pusaka tersebut.

Setelah selesai, warga membilas tangan dan membasuh muka, dengan air bekas pencucian 6 benda pusaka, yang tujuannya agar mendapat berkah. Sementara, 6 benda yang sudah dicuci langsung dikeringkan.

Camat Sukapura Yulius Christian mengatakan, Tradisi penyucian sudah berlangsung sejak nenek moyang suku Tengger. Oleh karenanya, ia bersama warga dan para tokoh adat suku Tengger terus melestarikan tradisi yang hanya digelar di 3 desa itu. Tahun ini, desa Ngadisari menjadi tuan rumah penyelenggaraan nyuci jimat Klontongan, setelah hari raya Karo, jimat Klontongan akan bergilir ke desa Wonotoro. (Zulkiflie/Halu)

Check Also

TRUK HAMPIR NABRAK RUMAH DAN MASUK SUNGAI

WATABERITA.COM – PROBOLINGGO. Kecelakaan terjadi di Probolinggo. Kali ini terjadi pada sebuah truk Hino tangki …