Senin, 20 April 2026, 15:27
Home / NEWS / GUBERNUR JATIM USULKAN KONVERGENSI MEDIA
Gubernur Jatim Soekarwo Foto Bersama Peserta Konferwil AMSI Jatim Rabu (25/10). Sumber Foto : Humas Pemprov Jatim

GUBERNUR JATIM USULKAN KONVERGENSI MEDIA

WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Perkembangan teknologi begitu pesat yang  melahirkan apa yang disebut dengan inovasi disruptif, yakni inovasi yang menyingkirkan hal – hal yang tidak sesuai, termasuk munculnya media online atau media siber. Apabila media lama telah menemukan filosofinya melalui konten atau isinya, maka media baru ini menemukan filosofi kecepatan informasi.

Gubernur Jawa Timur H. Soekarwo mengatakan itu saat menghadiri Konferensi Wilayah/Konferwil Pertama Asosiasi Media Siber Indonesis (AMSI) Jatim di Spazio Building, Jalan Mayjend Yono Soewoyo Surabaya, Rabu (25/10/2017).

Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jatim itu, mengusulkan adanya konvergensi atau pengintegrasian media sehingga ada sinergi antara media konvensional dan media siber, saling mengisi diantara dua jenis media ini.

“Jadi, media siber melayani kebutuhan masyarakat secara cepat sedangkan media konvensional memperkuat melalui konten. Bukan masalah untung rugi,” tandasnya.

Dia menambahkan, perkembangan teknologi media adalah sebuah keniscayaan dan tidak akan mengeliminasi jenis media sebelumnya. Dimana lahirnya radio tidak akan menghapus surat kabar dan lahirnya televisi tidak otomatis menghilangkan radio. Begitu juga lahirnya media siber,  tidak serta – merta mematikan jenis media sebelumnya atau media cetak.

Kata Karwo, era disruptif ini jangan sampai membuat media konvensional mati dan kalah dengan media baru.

Melalui konvergensi ini, masing-masing media harus bersinergi dan berjalan beriringan. “Yang satu (media konvensional) memberi  background filosofis melalui konten, yang satu (media siber) memberi kecepatan waktu. Ini pertarungan sesuatu yang baru,” katanya.

Siaran pers Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Jatim Benny Sampir Wanto menyebutkan media konvensional harus memperkuat konten. Beda dengan media siber yang mengedepankan kecepatan, media konvensional memiliki bahasan yang lebih mendalam.

Karena itu kunci keberhasilan sebuah media untuk bertahan adalah konten. “Semakin baik kontennya, maka pembaca akan bertahan. Sebab, pada dasarnya masyarakat mencari kebenaran, searching of truth,” katanya.

Salah satu tantangan media siber, lanjut Pakde Karwo, adalah berkembangnya berita palsu atau hoax. Sehingga akurasi harus menjadi hal yang wajib dipenuhi. “Media siber sebagai media yang paling mudah diakses seharusnya menjadi clearing house dari setiap informasi hoax yang menyebar di masyarakat,” kata orang nomor satu Jatim ini.

Dia juga menambahkan, dengan berbagai potensi dan tantangan tersebut, ia berharap media siber akan punya peran strategis. Media siber sebagai media baru diharapkan menjadi mitra strategis pemerintah dalam menyebarkan kabar baik dan informasi positif pada masyarakat.

Pada pelaksanaan Konferwil AMSI Jatim itu, Pakde Karwo berharap AMSI mampu memverifikasi media siber di Indonesia agar masyarakat tidak terjebak pada media siber palsu yang lebih banyak menyebarluaskan informasi hoax. Pakde juga mengusulkan pada AMSI agar kearifan lokal diangkat untuk memberikan sentuhan pada era disruptif ini. “Kultur harus diangkat untuk ‘menghaluskan’ proses yang ‘kasar’ dalam perubahan tadi,” tandasnya. (Haludin Ma’waledha)

Check Also

GRAND OPENING KANTOR BEKEEN LAW FIRM SEDERHANA TAPI MENGESANKAN

WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Menindak lanjuti pembukaan Kantor Pajak dan Hukum BEKEEN Law Firm (Bercahaya Keadilan …