Rabu, 21 Agustus 2019, 7:37
Home / JAKARTA / KONTRAVERSI PENYIDIK INDEPENDEN KPK PENGAMAT BILANG BISA MENJADI GESEKAN
3 pengamat dalam Diskusi yang bertajuk “Penyidik Independen : Awal Gesekan KPK Vs Polri dan Kejaksaan.

KONTRAVERSI PENYIDIK INDEPENDEN KPK PENGAMAT BILANG BISA MENJADI GESEKAN

WAGATABERITA.COM – JAKARTA. Beredarnya surat internal yang disampaikan oleh sejumlah mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang akan mengangkat penyidik secara independen oleh para pimpinannya dinilai sebagai ego kelembagaan dan terjadi kontraversi.

Direktur Center Budget of Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi menilai ego kelembagaan dan ego sektoral yang tumbuh kerap terjadi, dan itu akan berdampak pada gesekan – gesekan di internal lembaga tersebut.

“Ya memang dari dulu itu problem kita, ego kelembagaan dan ego sektoral selalu ada. Itu yang menjadi gesekan – gesekan internal,” ucap Uchok dalam diskusi Forum Wartawan Kejaksaan Agung (Forwaka), Jakarta, Senin (06/05/2019).

Jika gesekan itu terus dibiarkan, bukan tidak mungkin bisa mengganggu kinerja di tubuh KPK itu sendiri bahkan upaya penyelamatan uang negara yang digaung – gaungkan oleh Ketua KPK Agus Rahardjo Cs pun akan menjadi sia – sia, prediksi Uchok.

Dia juga mengulas, “seperti penangkapan di daerah, ngapain nangkapin (pelaku korupsi) di daerah, kalau pengembalian uang negara tanpa ada timbal balik untuk apa, Itu pasti rugi,” sindir Uchok seraya mengulas uang penanganan di KPK mencapai Rp 100 juta per kasus.

Kedepan Uchok berpendapat calon pimpinan KPK diisi oleh masyakat sipil biasa dan independen, bukan mereka yang berlatar belakang dari intansi Kepolisian atau Kejaksaan atau kata dia, seperti sosok penyidik Novel Baswedan yang bagaikan mutiara, Novel yang berasal dari intansi Polri akhirnya berlabu di KPK, berani melawan arus tempat asal dia bekerja.

“Sosok mutiara seperti Novel, dia berani melawan instansinya tempat dia bekerja. Karena itu, penyidik independen itu bebas, tapi kalau masih ada penyidik dari Polri atau Kejaksaan akan di setir,” tutur dia.

“Dengan adanya penyidik independen bebas mengambil keputusan, saya maunya komisioner dari masyarakat sipil, bukan yang berasal dari pensiunan kepolisian, kejaksaan. Komisioner harus dari masyarakat sipil. Dua lembaga itu menjadi kanker buat lembaga itu,” sambungnya.

Dia menambahkan terkait gesekan internal, menurutnya ego itu bisa saja diredam dengan diskusi internal, namun kadang – kadang yang dikhwatirkan ego ini muncul dari misi penugasan masing – masing lembaga itu.

Diskusi yang bertajuk “Penyidik Independen : Awal Gesekan KPK Vs Polri dan Kejaksaan, Ahli hukum pidana dari Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar cenderung melihat gesekan itu akibat perspektif sosilogis di lembaga penegak hukum itu, ini mengingat KPK sudah berganti – ganti generasi sejak didirikan pasca reformasi 20 tahun lalu.

Diskusi yang bertajuk “Penyidik Independen : Awal Gesekan KPK Vs Polri dan Kejaksaan.

“Perspektifnya sosiologis seolah penyidik sekarang lebih baik. Padahal itu ego, seolah tidak ada,” ujar Fickar.

Diungkapkan gesekan di internal KPK bukan kali pertama terjadi. Apalagi ada dua lembaga penegak hukum lainnya yang ikut masuk di dalamnya, “Kejaksaan sebelum ada KPK selalu ribut dengan Polisi, soal penanganan korupsi kemudian macet, maka munculah KPK dan MK, sekarang pun demikian,” ungkapnya.

Sedangkan pakar hukum pidana Universitas Nasional Umar Husain meminta masyarakan mendukung pemberantasan korupsi oleh lembaga manapun baik itu KPK, Polri maupun Kejaksaan.

Agar tidak melampaui kewenangannya, semua lembaga pemberantasan korupsi perlu diawasi termasuk KPK, “Semua lembaga perlu cek and balance,  karena orang cenderung tidak ada batasan dalam melakukan fungsi dan tugasnya. Bukan diartikan untuk melemahkan namun agar KPK selalu berada di dalam koridor,” kata Umar.

Saat ini KPK memang ada komite etik, namun itu masih bersifat ad hoc. Lembaga pengawas itu bisa diisi oleh tokoh yang dipercaya masyarakat, “Semua harus diawasi dan tidak boleh ada lembaga yang tanpa Pengawasan,” tandas Umar dalam diskusi tersebut. (Red/*)

Check Also

CATATAN PERJALANAN DENNY JA TENTANG JENIS KULIT JESUS (NABI ISA)

WAGATABERITA.COM – JAKARTA. Tiga Channel TV yang besar bekerja sama di tahun