Sabtu, 19 Oktober 2019, 19:28
Home / NEWS / KEMENKES TINJAU LAHAN RS BARU KOTA PROBOLINGGO

KEMENKES TINJAU LAHAN RS BARU KOTA PROBOLINGGO

WAGATABERITA.COM-PROBOLINGGO, Tim Kementrian Kesehatan Republik Indonesia bersama Dinas Kesehatan Provinsi, Jawa Timur, Jum’at (21/06/2019) melakukan kunjungan ke Kota Probolinggo, guna menindaklanjuti rencana pembangunan rumah sakit baru kota setempat.

Kedatangan Tim Kemenkes, bertujuan melihat langsung fisik lahan yang bakal dibangun rumah sakit, dimana lokasinya berada di Kecamatan Wonoasih dengan luas sekitar 3,8 hektar.

Wakil Wali Kota Probolinggo, M Soufis Subri yang mendampingi langsung kunjungan Tim Kemenkes menyebut, dengan adanya pembangunan rumah sakit baru dan lokasinya berada di wilayah selatan Kota Probolinggo. Diharapkan berdampak, pada pemerataan ekonomi masyarakat.

“Perlunya pembangunan rumah sakit baru, hal itu karena begitu kompleknya kondisi rumah sakit yang ada saat ini. Kita tahu RSUD dr Mohammad Saleh Kota Probolinggo, sudah berdiri sejak 1958,”kata Subri.

Dijelaskannya RSUD dr Mohamad Saleh sendiri, lingkungannya sudah padat dan tidak mungkin dikembangkan lagi. Banyak pasien yang harus ditampung baik dari dalam, atau luar Kota Probolinggo

Subri menyampaikan, terkait lokasi lahan rumah sakit baru sendiri dari hasil tinjauan Kemenkes sudah tidak ada masalah. Dimana lahan yang ada, tidak memberikan dampak langsung misalnya gunung dan laut yang berdekatan.

Sementara Tim Kemenkes yang dipimpin Kasubdit Fasyankes Rujukan, Ditjen Yankes Kementrian Kesehatan RI, Mujadid mengatakan, dalam pembangunan rumah sakit baru dana yang dipakai adalah dana APBD. Baru setelahnya, melalui DAK (Dana Alokasi Khusus) dengan menu pembangunan lanjutan.

“Untuk RS baru bisa dilakukan diawali menggunakan dana APBD, Nanti setelahnya pengusulan berikutnya dengan DAK pakai menu pembangunan lanjutan,”terang Mujaddid.

Mujadid menjelaskan, pembangunan RS baru memungkinkan jika RSUD yang ada sudah overload, atau RS tidak bisa dikembangkan. Namun demikian, untuk pembangunan RS kelas C, dikatakannya harus ada empat dokter spesialis. Yaitu anak, bedah, obgyn dan penyakit dalam.

Sementara tipe B ada dokter sub spesialis,  selain itu standar alat, sarana prasarana dan SDM pun sudah diatur dalam permenkes. Sehingga makin tinggi kelasnya maka makin complicated.

“Kalau mampu tipe D ya gak papa, C juga gak papa. Asal saat membangun langsung operasional. Yang terberat dari pembangunan RS itu, SDM-nya. Kalau mau beli alat atau membangun ruangan itu gampang asal ada duit,” ujarnya.

Atas kunjungannya Mujaddid menyampaikan, akan membuat laporan telaah staf, pada pimpinan. Dimana disesuaikan dengan peraturan yang berlaku saat ini. (Zulkiflie)

Check Also

TAK MUNGKIN DIPADAMKAN MANUAL.PEMPROV JATIM KERAHKAN WATER BOMING UNTUK PADAMKAN KEBAKARAN

WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Menyusul kembali munculnya titik api di kawasan hutan