WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Gubernur Jatim Dr. H. Soekarwo menyampaikan keprihatinannya, atas aksi Bom bunuh diri di Surabaya beberapa waktu lalu yang dilakukan oleh satu keluarga termasuk melibatkan anak – anaknya. Terkait pelibatan anak dalam radikalisme, khususnya dalam terorisme di Surabaya. Agar tidak terjadi kasus serupa, maka perlu diupayakan langkah pencegahan.
- BAYI PEREMPUAN TEMUAN WARGA, DIPINDAHKAN KE DINSOS PROVINSI JATIM
- WARGA PESISIR PROBOLINGGO HEBOH TEMUKAN BAYI TERBUNGKUS PLASTIK
- CERITA IFA, SISWI SD PENYANDANG DISABILITAS TANPA TELAPAK TANGAN DAN KAKI
- PERKAWINAN ANAK DIBAWAH UMUR DAPAT DIKATEGORIKAN PELANGGARAN PIDANA
- STOP KEKERASAN TERHADAP ANAK KOMNAS ANAK DEKLARASI DI TOMOHON
“Salah satunya melalui kerjasama dan pelibatan KPAI dalam program – program Pemprov Jatim. Alasannya, KPAI telah berpengalaman dalam menyelesaikan permasalahan anak – anak,” ujar Pakde Karwo sapaan akrab Gubernur Jatim ini saat menerima Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto, di ruang kerja, Kantor Gubernur Jatim Jl. Pahlawan No. 110 Surabaya, Kamis (17/05/2018).
Kerjasama atau pelibatan KPAI tersebut, lanjut Gubernur, setidaknya terdapat pilot project di Jatim untuk mencegah radikalisme pada anak. “Atau minimal sharing informasi antara KPAI dengan Pemprov Jatim,” ujarnya sambil menambahkan dua dinas di Jatim menanganinya. Kedua lembaga tersebut yakni Dinas Sosial Provinsi Jatim serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan Provinsi Jatim.

Ditambahkan, dalam waktu dekat, pihaknya juga akan mengundang forkopimda bersama para rektor dan pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se – Jatim terkait upaya mencegah radikalisme ini.
Terkait penanganan anak korban terorisme di Jatim, Pakde Karwo menjelaskan semua anak yang menjadi korban terorisme beberapa hari terakhir ini telah didampingi para psikolog. (Red)
Wagata Berita wagata berita adalah website yang berisikan berita-berita terkini.