Sabtu, 22 September 2018, 6:59
Home / SURABAYA / PESAREAN EYANG KUDO KARDONO TAK SEKEDAR WISATA SEJARAH

PESAREAN EYANG KUDO KARDONO TAK SEKEDAR WISATA SEJARAH

WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Pusara atau Pesarean Eyang Kudo Kardono di jalan Cempaka No 25 Surabaya, Jawa Timur, bukanlah sekedar lokasi wisata sejarah di kota Buaya tersebut. Sejumlah sarana ibadah melengkapi areal ini.

Di dalam komplek Pesarean yang luasnya ± 1500 m2  ini terdapat Sanggar Tri Murti yang merupakan tempat pemujaan umat Hindu. Pada sisi lain juga terdapat Musholla Ujung Galuh berbentuk rumah panggung sebagai tempat ibadah muslim. Kemudian ada pula Sanggar Pamujan tempat ritual para penganut Kejawen yang mempelajari ilmu Jawa sejati.

Disini, ditemukan pula bangunan Ontho Bogo yang berupa ukiran batu besar. Pada bagian tengahnya terdapat kucuran air yang dipercaya sebagai lambang kemakmuran oleh warga setempat.

Menurut kisahnya, selain Gajah Mada yang sudah termasyur itu, Eyang Kudo Kardono, oleh masyarakat Jawa Timur khususnya Surabaya juga diyakini sebagai Panglima perang Majapahit. Raja Jayanegara (Kalagemet) yang memerintah Majapahit dari tahun 1309 – 1328 Masehi sangat mempercayai Eyang Kudo Kardono.

Dalam komplek Pesareannya  ini terdapat juga Balai Mojopahit. Tempat ini merupakan  sarana penginapan atau istirahat para musafir atau peziarah yang berniat bermalam yang mengikuti ritual di Pendopo Utomo, biasa dipakai untuk sedekah bumi di wilayah Tegal Sari dimana lokasi pesarean ini berada.

“Selain itu, di tempat ini terdapat pula Pesarean Eyang Wahyu selaku Penasehat Eyang Kudo Kardono. Ada pula sumur keramat yang dipercaya banyak kalangan bisa menyembuhkan berbagai penyakit kecuali penyakit stroke,” kata Nugroho Bowo, Ketua Pengurus Pesarean Eyang Kudo Kardono, Minggu (25/9).

Nuansa mistis yang dimiliki tempat ini ternyata sangat mengundang minat masyarakat. Hal ini terlihat banyaknya warga luar Surabaya yang berkunjung di hari – hari tertentu.
“Pesarean ini amat diminati warga, utamanya dari luar kota, puncaknya dalam kalender Jawa disebut hari Selasa Kliwon dan Kamis malam Jumat Legi,” kata Suwarno, sang Juru Kunci.(Dwi Cahyono/Rd).

Check Also

LAGI, PAKDE KARWO TERIMA PENGHARGAAN LAYANAN PUBLIK

WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Dibawah kepemimpinan Gubernur, Dr. H. Soekarwo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *