WAGATABERITA.COM – PROBOLINGGO. Potret buram dunia pendidikan di Indonesia masih terlihat, di salah satu pelosok negeri tepatnya di Dusun Gunung Wurung, Desa Opoh – opoh Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo Jawa Timur, Selasa (25/04/2017).
Puluhan siswa sekolah Raudlatul Atfal dan Madrasah Diniyah Nurul islam, harus rela bertaruh nyawa melawan derasnya aliran sungai Rondoningo, yang memiliki lebar 15 meter itu.
Setiap harinya, siswa setingkat Taman kanak – kanak dan sekolah dasar itu, berangkat dan pulang sekolah dengan menyebrangi aliran sungai Rondoningo, yang berada di kaki pegunungan Argopuro.
Menerjang arus sungai, pilihan satu – satunya para siswa karena tidak adanya fasilitas jembatan penghubung, yang tersedia di daerah setempat. Padahal, kondisi sungai Rondoningo sendiri kerap dilanda banjir.
“Setiap hari sebelum menyebrang sungai, ya buka sepatu dulu. Lalu seragam dilipat agar tidak basah. Tapi kalo air sungai meningkat dan banjir, ya kita takut, biasanya ya bolos sekolah jadinya,” ungkap Muhammad Sukron, salah seorang siswa.
Tidak adanya jembatan penghubung, juga berdampak pada perekonomian warga. Warga Opoh – opoh yang umumnya merupakan petani, sangat kesulitan saat akan mendistribusikan hasil pertaniannya, ke daerah seberang. “jika menggunakan jalur lainnya memakan waktu lama, dan menguras banyak biaya,” Kata Naimah, warga.
Berbagai upaya, telah dilakukan pihak sekolah dan desa agar pemerintah daerah segera membangun jembatan penghubung itu. Namun sampai kini, masih belum ada tanda – tanda dari pemda setempat, yang berencana merealisasikan keinginan warga tersebut. (Zulkiflie/Dir)
Wagata Berita wagata berita adalah website yang berisikan berita-berita terkini.