Senin, 18 Juni 2018, 12:51
Home / RELIGI / APAKAH ORANG TAK PUNYA UANG TAK BISA MASUK ATAU BERIBADAH DI KLENTENG SAM PO KONG SEMARANG

APAKAH ORANG TAK PUNYA UANG TAK BISA MASUK ATAU BERIBADAH DI KLENTENG SAM PO KONG SEMARANG

WAGATABERITA.COM – SEMARANG. Hari ini pertama kali saya menapakkan kaki di klenteng Sam Po Kong jl Simongan Bongsari Semarang, Senen (11/06/2018).

Tetapi saya selaku umat Khong Hu Cu sangat merasakan keanehan, pasal nya apabila ingin memasuki areal Klenteng pengunjung di wajib kan membeli tiket alias bayar agar dapat memasuki areal Klenteng.

Saya merasakan Seperti memasuki tempat wisata permainan saja, masuk areal Klenteng sampai halaman kita di wajibkan membeli tiket Rp 10 000, dan apabila kita ingin memasuki areal sembayang Klenteng kita harus mengocek kantong Rp 28 000 untuk membeli tiket terusan istilah ini seperti kita hendak masuk areal wisata seperti dunia Fantasi atau Jatim Park kalau di Jawa Timur.

Memang betul ada pengecualian apabila seorang umat Khong Hu Cu yang ingin beribadah ke Klenteng hanya perlu membayar uang tiket Rp 10 000 dapat dikembalikan, tapi dengan syarat yakni harus membeli dupa seharga Rp 28 000 sebungkus dan diberi nota pembelian agar dapat pengembalian uang tiket kita Rp 10 000 lewat penukaran tiket pembelian Dupa tersebut.

Sebenarnya bukan masalah uang Rp 10 000 yang saya permasalahkan, tetapi yang menjadi kegundahan saya apabila ada seorang yang tidak memiliki uang tapi beragama Khong Hu Cu apakah dia tidak dapat masuk ke dalam Klenteng untuk Beribadah, karena tak mampu membeli tiket masuk, apabila dia tak memiliki uang untuk membeli dupa apakah tak bisa masuk untuk sekedar beribadah, berdoa tanpa harus membeli dupa.

Memang ada keterangan dari salah seorang petugas loket, apabila umat ingin beribadah kalau membawa dupa sendiri dapat masuk langsung tanpa harus membeli tiket dan beli dupa di areal Klenteng alias gratis, tapi maaf yang jadi pertanyaan saya apakah semua umat punya uang untuk membeli dupa dan wajib membeli dupa untuk beribadah, setahu saya tak wajib, karena orang tak memiliki uang pun dapat beribadah sembahyang walau hanya berdoa dengan tangan tanpa harus menggunakan dupa.
Apakah orang tak punya uang tak boleh sembahyang ke Klenteng.

Setahu saya lagi yang sering ke Klenteng wilayah di Indonesia setiap Klenteng yang saya datangi pasti menyediakan dupa gratis agar apa bila ada umat yang ingin beribadah dan tak ingin membeli dupa diperboleh kan memakai dupa gratis tersebut.

Hal yang mengganjal berikut yang saya rasakan apakah apabila saya yang bukan beragama Khong Hu Cu dan tak memiliki uang untuk membeli tiket tidak boleh masuk ke dalam areal Klenteng untuk melihat – lihat dan keperluan lainnya. pertanyaan saya apakah ada tempat Ibadah agama lain yang menghalangi orang yang bukan umatnya untuk memasuki areal ibadah nya untuk melihat – lihat bahkan berfoto – foto, sepertinya belum pernah saya temukan misal nya Mesjid Cheng Ho selain selaku tempat Ibadah juga merupakan Masjid yang menjadi Destinasi Wisata tak perlu beli tiket untuk memasuki areal Masjid.

Jadi Selaku umat Khong Hu Cu saya benar – benar tak setuju mengapa sebuah tempat Ibadah yang begitu megah nya harus dikomersilkan, apa tujuan Klenteng Sam Po Kong mengkomersilkan sebuah tempat ibadah umat Khong Hu Cu tersebut, saya berharap akan ada perubahan suatu hari nanti sehingga sebuah tempat ibadah tak perlu dikomersilkan dan saya berharap jadi perhatian pengurus Klenteng atau mungkin pemilik Klenteng bahkan kalau mungkin Pemerintah dapat turut serta memperhatikan.

Perlu diketahui Sam Po Kong adalah seorang Laksamana Tiongkok yang bernama Zheng He / Cheng Ho yang beragama Islam, karena jasa – jasanya Zheng He / Cheng Ho yang dikenal dalam Agama Khong Hu Cu sebagai Sam Po Kong Di agung kan sebagai Dewa dan di sembah di Kota Semarang ini. (Juliman)

Check Also

JEMAAH ABOGE PROBOLINGGO SHOLAT IED DAN RAYAKAN LEBARAN SABTU PAGI

WAGATABERITA.COM – PROBOLINGGO. Meski mayoritas umat islam telah merayakan lebaran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *