Selasa, 8 September 2026, 21:50
Home / PROBOLINGGO / TEMA KEBHINEKAAN DIAMBIL PADA PERAYAAN KARO TAHUN SAKA 1939
Tarian Sodoran Perayaan Karo Suku Tengger, Kamis (07/09/2017), Sumber Foto : Zulkiflie

TEMA KEBHINEKAAN DIAMBIL PADA PERAYAAN KARO TAHUN SAKA 1939

WAGATABERITA.COM – PROBOLINGGO.Β Arak – arakan Kelontongan atau jimat suci, dilakukan ratusan warga suku Tengger, dari dua desa yakni Ngadisari dan Wonotoro dalam perayaan Yadnya Karo tahun Saka 1939, Kamis (07/09/2017).

Diiringi suara gamelan, dua arak – arakan kemudian bertemu layaknya iring – iringan sepasang pengantin pria dan wanita. Namun, dalam perayaan ini peran mempelai wanita digantikan oleh seorang pria.

Usai melakukan arak – arakan, keduanya lantas menuju balai desa Ngadisari kecamatan Sukapura. Yadnya Karo sendiri, diikuti oleh 3 desa yakni desa Jetak, Wonotoro, dan Ngadisari.

Di dalam balai desa, perayaan Yadnya Karo dilanjutkan dengan tarian Sodoran. Ritual suci ini mengisahkan pertemuan dua benih manusia, yakni pria dan perempuan, sebagai gambaran cikal bakal adanya kehidupan di alam semesta. Pertemuan dua manusia itu, adalah perwujudan leluhur suku Tengger, yakni sosok Joko Segger dan Roro Anteng.

Meski dirayakan tiap tahun, namun pesona budaya warga suku Tengger, tak pernah habis dari daya tarik wisatawan lokal, maupun mancanegara. Seperti yang diungkapan wisatawan asal Belgia, Stanley.

This culture is very unique, i don’t find the weird culture like this. Especially from the habit, attitude and clothes, those are very wonderful. I’have never find same culture like this in europe. (budaya disini sangat unik, saya belum menemukan budaya yang berbeda seperti ini. Terutama dari kehidupan sehari – hari, perilaku, dan pakaian sangat menakjubkan. Saya belum pernah mendapati budaya seperti ini di eropa), ungkap Stanley.

Wisatawan Asal Belgia, Saat Melihat Perayaan Yadnya Karo, Kamis (07/09/2017), Sumber Foto : Zulkiflie

Di akhir acara, para wanita warga suku Tengger, lantas menyuguhkan makanan bagi kaum pria, yang mengikuti prosesi perayaan Yadnya Karo. Semua warga suku Tengger, lantas berbaur dari anak – anak hingga orang dewasa, untuk menyantap sajian makanan bersama.

Tokoh adat suku Tengger, Supoyo mengatakan Karo adalah nama kalender Tengger bulan kedua, sementara makna Karo sendiri merupakan perlambang asal mula kelahiran manusia yang diciptakan Sang Hyang Widiwasa, melalui perkawinan dua orang jenis manusia yakni pria dan perempuan.

Sementara itu, berbeda dengan sebelumnya perayaan Yadnya Karo kali ini mengambil tema Adat mempersatukan kita, cegah faham radikalisme. Menurut Camat Sukapura, Yulius Christian, Tema itu sengaja diambil guna memperkuat kebhinekaan, antar warga Sukapura yang notabene warganya terdiri dari beragam agama, baik Hindu, Budha, dan Kristen. (Zulkiflie/Halu)

Check Also

TRUK HAMPIR NABRAK RUMAH DAN MASUK SUNGAI

WATABERITA.COM – PROBOLINGGO. Kecelakaan terjadi di Probolinggo. Kali ini terjadi pada sebuah truk Hino tangki …