WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Permasalahan disharmonisasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan majikan yang dilaporkan ke KBRI Singapura mencapai 89 %. Disharmonis yang dimaksud seperti, makanan tidak cocok dengan selera TKI atau mempekerjakan TKI tidak sesuai perjanjian awal.
Itu dikemukakan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Singapura, H.E. Ngurah Swajaya saat menanggapi pertanyaan wagataberita.com, usai acara Focus Group Discussion (FGD) di Kampus Fisip Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Selasa (11/04/2017).
Dia menambahkan, jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) anskill di Singapura saat ini mencapai 130 ribu orang. Mereka umumnya berkerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT). Dari jumlah itu, 89 % laporan permasalahan yang masuk ke kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura, diantaranya masalah yang berkaitan dengan makanan yang mereka konsumsi. Misalnya sang TKI tidak cocok/tidak sesuai selera makanan yang diberikan oleh majikan.
Selain itu, juga terkadang majikan mempekerjakan mereka melebihi/atau tidak sesuai dengan perjanjian. Misalnya, dalam kontrak kerja mengasuh anak, tapi majikan menambahkan pekerjaan lain. Atau juga, dalam perjanjian membersihkan satu unit rumah, tapi majikan menambah pekerjaannya membersihkan dua rumah. ‘’Itu tidak diperbolehkan di Singapura. Karena itu, para TKI datang ke KBRI melaporkannya.
Sementara kasus yang berkaitan dengan ketenaga kerjaan relatif kecil hanya sekira 3 % dan kasus yang berkaitan dengan masalah hukum, hanya 2 % saja, tandas Ngurah Swajaya.
Dubes RI untuk Singapura itu datang ke FISIP Unair dalam kaitan berbicara pada FGD yang dihadiri utusan pemerintahan Jawa Timur, perbankan, swasta/pelaku ekonomi dan mahasiswa S.2 dari berbagai Universitas di Surabaya.
Kepada wartawan Ngurah Swajaya yang didampingi Aisyah Endah Palupi (Education and Culture Attache) KBRI Singapura, menambahkan dibidang pendidikan, pihak KBRI Singapura juga telah memberikan kesempatan kepada para TKI untuk melanjutkan pendidikan kuliah di Universitas Terbuka (UT) Batam yang bekerjasama dengan lembaga pendidikan yang ada di Singapura.
Hubungan diplomatik RI – Singapura pertama diresmikan tanggal 17 September 1967, saat kunjungan Menlu Singapura ke Jakarta. Capaian – capaian yang diperoleh selama 50 tahun hubungan bilateral Indonesia – Singapura sudah cukup baik dengan meliputi berbagai bidang. Bidang ekonomi misalnya, Singapura merupakan mitra dagang terbesar Indonesia ketiga, setelah RRT dan Jepang.
Dalam 4 tahun terakhir investasi Singapura di Indonesia menduduki tempat teratas. Tahun 2016, total nilai investasi Singapura untuk Indonesia mencapai 9,2 miliar dolar AS atau naik 55 % dibanding tahun 2015 hanya senilai 5,8 miliar dolar AS.
Dalam bidang pariwisata, wisatawan Indonesia ke Singapura tahun 2016 sebesar 17 % dari total 16 juta wisatawan dari berbagai negara yang masuk ke Singapura. Sementara wisatawan Singapura yang masuk ke Indonesia mencapai 10 % dari total wisatawan asing yang masuk ke Indonesia.
Menyinggung mengenai FGD, Ngurah mengatakan, pihaknya melakukan ini untuk berdiskusi mengenai tantangan – tantangan baru dalam dinamika kerjasama Indonesia – Singapura dari kalangan praktisi ekonomi/pelaku ekonomi, pemerintahan dan kalangan perguruan tinggi. Unair merupakan salah satu perguruan tinggi yang dipilih di Surabaya, kemudian Yogyakarta, Medan dan Universitas Samratulangi, Manado Sulawesi Utara (Sulut).
Kuliah tamu bertajuk Kerja sama Indonesia – Singapura (RI – SING 50) yang mengusung tema ‘’Peluang dan Tantangan dalam Refleksi 50 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia – Singapura yang dibuka Dekan Fisip Dr. Falih Suaedi itu, turut dihadiri Aisyah Endah Palupi (Atase Pendidikan), John Tjahjanto Boestami (Minister Counsellor Fungsi Protokol dan Konsuler), dan Melati Sasrowidjojo (Sekretaris Ketiga Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya. (Haludin Ma’waledha)
Wagata Berita wagata berita adalah website yang berisikan berita-berita terkini.