Minggu, 24 Oktober 2021, 3:53
Home / NEWS / KERJASAMA ANTAR DAERAH KURANGI IMPORT BAHAN BAKU DARI LUAR NEGERI ATASI MASALAH NASIONAL

KERJASAMA ANTAR DAERAH KURANGI IMPORT BAHAN BAKU DARI LUAR NEGERI ATASI MASALAH NASIONAL

WAGATABERITA.COM – TARAKAN. Gubernur Jatim, Dr. H. Soekarwo sebagai salah satu pembicara hadir pada kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia XIII tahun 2018 yang berlangsung di Kota Tarakan, Rabu (25/07/2018).

Dalam kesempatan ini, Pakde Karwo sapaan akrab Gubernur Jatim ini memaparkan peluang dan tantangan kerjasama antar daerah dalam rangka mendukung optimalisasi potensi daerah.

Terdapat permasalahan serius di tingkat nasional, yaitu 80 persen bahan baku industri merupakan hasil import dari luar negeri. Dampaknya penyerapan produk – produk lokal menjadi rendah. Oleh sebab itu, perlu ada kerjasama antar daerah di Indonesia dalam rangka mengurangi import bahan baku dari luar negeri, jelas Pakde Karwo dalam kegiatan tersebut.

Pemprov Jatim melakukan berbagai upaya dalam rangka mengurangi import bahan baku. Salah satunya, mencari potensi bahan baku di dalam negeri untuk dapat menjadi bahan substitusi pengganti. Bahan baku lokal yang dapat disubstitusi karena tersedia, misalnya produksi singkong, tembakau virginia, jagung, susu, dan biji kakao.” APEKSI harus bisa melihat dengan jeli potensi bahan baku di dalam negeri untuk dapat menjadi bahan substitusi pengganti. Apabila tersedia bahan baku dari dalam negeri, maka tidak perlu dilakukan import.” harapnya.

Selain itu, Pemprov Jatim juga melakukan langkah penguatan perdagangan antar daerah melalui membuka 26 Kantor Perwakilan Dagang (KPD). Dampaknya cukup besar, neraca perdagangan dalam negeri selama lima tahun terakhir meningkat 133,55 persen. Dengan capaian tersebut, Jatim menguasai pasar domestik sebesar 20,7 persen. Pada Tahun 2016 neraca perdagangan mengalami surplus Rp. 100, 5 triliun. Angka tersebut meningkat menjadi surplus Rp. 164,49 triliun. “Di provinsi yang kami ajak kerjasama melalui KPDnya, mengalami peningkatan kesejahteraan masyarakat di proses produksi dan pasar. Hal tersebut berlangsung sangat cepat karena dampak positif adanya KPD,” tuturnya.

Kerjasama antar daerah, lanjut Pakde Karwo juga harus didukung dengan informasi teknologi. Saat ini, Jatim memiliki Jatim Smart Economy. Berbagai kebutuhan dan ketersediaan bahan baku yang dibutuhkan bisa dimasukkan di dalam database ini. Didalamnya, masyarakat bisa mengetahui berapa besar laporan investasi secara realtime, prediksi inflasi, prognosa produksi, ketersediaan bahan baku dan pengembangan UMKM. “E-raw material bisa dimasukkan didalamnya,” ujarnya sambil menambahkan juga adanya smart factory yang berisi data base perusahaan di kota yang bekerjasama dengan Jatim.

Pakde Karwo mencontohkan Jatim membutuhkan tepung singkong untuk produksi Chail Jedang di Jombang. Setidaknya membutuhkan 1 juta ton untuk produksi. Bahan baku tersebut juga bisa dikerjasamakan dengan daerah lain. ”Kerjasama Jatim dengan Kalimantan Utara adalah mengirimkan transmigran yang dibiayai APBD. Mereka tersebar di Bulungan untuk mengajarkan menanam jagung,” ungkapnya. (Red)

Check Also

PPKM LANJUT INI RINCIAN LEVEL WILAYAH JAWA BALI

WAGATABERITA.COM – JAKARTA. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) masih dilakukan