Jumat, 5 Juni 2020, 9:04
Home / NEWS / INI PENJELASAN ANGGOTA DPRD JATIM DARI IDI CARA MENGGUNAKAN RAPID TEST AGAR HASILNYA AKURAT
dr Benjamin Kristianto Anggota DPRD Jatim.

INI PENJELASAN ANGGOTA DPRD JATIM DARI IDI CARA MENGGUNAKAN RAPID TEST AGAR HASILNYA AKURAT

WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Salah satu pencegahan penyebaran Covid – 19 saat ini ialah dengan melakukan rapid test pada masyarakat yang alat rapid test tersebut diimport dari China dan Korea sehingga penggunaanya harus dipahami dan digunakan secara tepat agar warga di Jatim mendapatkan hasil yang tepat dan akurat tidak mendapat hasil salah karena teknik penggunaannya kurang tepat.

Produk rapid test yang diimpor ini tiap produknya memiliki kualitas yang berbeda, “kalau rapid test yang diimpor dari Cina kualitasnya beragam. Ada yang bagus, tapi ada juga yang tidak. Kalau dari Korea lebih baik, dan tingkat keakuratannya lebih baik,” kata dr Benjamin Kristianto di kantor DPRD Jatim, Senin (27/04/2020).

Pemeriksaan rapid test yang kurang tepat hasilnya nanti false negatif sehingga yang di rapid test seolah – olah hasilnya negatif padahal teknik pemeriksaannya yang salah, “harus tepat agar akurat. Dampak dari hasil rapid test yang false negatif akan menjadikan seseorang tersebut merasa tidak terinfeksi virus Corona. Seseorang akan merasa percaya diri dan bangga berkumpul dengan orang banyak. Padahal dia justru carrier yang menyebarkan virus ke orang sekitarnya,” terang Benjamin.

Hasil rapid test negatif pada seseorang yang sebenarnya positif Covid – 19 berbahaya sebab bisa mendadak merasakan sesak nafas berat dan tak sadarkan diri, ini penyebab tingginya angka kematian, “teknik rapid test yang benar adalah tidak langsung menggunakan darah segar (fresh whole blood). Artinya darah segar yang diambil tidak langsung diteteskan ke alat rapid test. Tetapi pemeriksaan sebaiknya menggunakan serum atau plasma. Mengingat antibodi yang diperiksa itu adalah immunoglobulin G (IgG) dan Immunoglobulin M (IgM),” jelas Benjamin.

Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sidoarjo ini melanjutkan, “dilihat dulu, apakah sudah ada Immunoglobulin G/M, antibodi untuk melawan virus. Itu yang diperiksa, IgG dan IgM sebenarnya tidak ada di seluruh darah. Tetapi antibodi ini ada di plasma atau serum tersebut. Darah itu terdiri dari sel darah dan cairan plasma atau serum. Antibodi itu tidak ada di sel. Tetapi adanya di plasma atau serum,” paparnya.

Saat meneteskan darah segar pada rapid test akan tertutup oleh sel sehingga tingkat plasma berkurang atau tidak bisa menyerap meski ditetesi deluent/buffer atau tetesan mencairkan, “berarti kadarnya berkurang. Lha kadarnya kurang ini menyebabkan seolah – olah negatif. Padahal bukan negatif tetapi kadar yang digunakan untuk mengetes antibodi tersebut kurang banyak,” ungkap pria pemilik RS Sheila Medika, Juanda, Sidoarjo tersebut.

Teknik rapid test yang tepat adalah mengambil darah lalu dilakukan sentrifugasi (diputar dengan alat) dengan kecepatan tinggi sehingga terpisah antara sel dengan plasma yang diambil bisa diteteskan ke alat rapid test agar kandungan immunoglobulin lebih pasti dan tepat. Untuk serum/plasma cukup 10 ul sedangkan untuk whole blood harus 2/3 kali lebih banyak. “Itu mencegah terjadinya false negatif. Padahal bukan negatif. Tetapi kadarnya kurang,” tutur Politisi Partai Gerindra itu.

Dengan penggunaan yang tepat hasil rapid test bagi pasien positif biasa hasilnya tepat sehingga pasien positif covid – 19 langsung diisolasi dan diawasi untuk mendapatkan perawatan medis. Oleh sebab itu seseorang harus memperhatikan kualitas alat rapid dan teknik pelaksanaannya, “supaya tak percuma membeli rapid atau melakukan pemeriksaan tapi hasilnya False,” pungkas Benjamin. (Red)

Check Also

TAK ADA YANG KEBAL PADA CORONA GUBERNUR HARAP PASIEN SEMBUH EDUKASI MASYARAKAT AGAR WASPADA

WAGATABERITA.COM – SURABAYA Peningkatan korban positif Covid – 19 tak