WAGATABERITA.COM – BLITAR. Patek atau Penyakit antraknosa sampai kini masih menjadi ancaman bagi petani cabai, karena dapat menyebabkan gagal panen. Ekstrimnya cabai yang siap panen membusuk dan menurun produksinya.
Penyakit ini merupakan salah satu kendala yang mengancam kualitas tanaman cabai hingga menyebabkan banyak kerugian bagi petani cabai yang biasanya kehilangan hasil panen akibat serangan penyakit ini diperkirakan sebanyak 20 – 90 persen, terutama di musim penghujan, Jumat (14/08/2020).
Penyakit patek pada tanaman cabai ini disebabkan oleh cendawan Colletotrichum capsici, yang parahnya penyakit ini dapat menyerang semua fase buah cabai, mulai saat fase cabai masih muda hingga fase sudah masak.
Kasus penyakit patek ini menimpa petani cabai di Kabupaten Blitar. Petugas Pengamat OPT Kabupaten Blitar melaporkan tanaman cabai terserang penyakit antraknosa ini milik kelompok tani Mangun Karyo, Desa Binangun, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar.
Upaya untuk membantu petani pun dilakukan UPTD BPTPH Provinsi Jawa Timur bersama Laboratorium PHP Tulungagung dengan melakukan gerakan pengendalian penyakit patek (antraknosa) menggunakan agens pengendali hayati Trichoderma diselingi Plant Growth Promoting Rhyzobacteria (PGPR). Upaya ini diaplikasikan setiap dua hari sekali.
“Bantuan bahan pengendalian tersebut diharapkan dapat mengurangi serangan patek sekaligus mengurangi penggunaan pestisida kimia,” terang Dirjen Hortikultura, Prihasto Setyanto.
Prihasto mengatakan, bentuk bantuan ini hanya sebagai stimulan saja agar petani dapat beralih dari budidaya konvensional berbahan kimia ke budidaya ramah lingkungan, “tentunya dengan mengaplikasikan agens hayati dan pestisida nabati,” jelasnya.
Ia pun menjelaskan, sebagaimana instruksi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, pemberian bantuan dalam bentuk Gerakan Pengendalian OPT langsung pada kelompok tani akan lebih tepat sasaran dan tepat manfaat, “tujuannya untuk mendorong produktivitas petani sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani,” pungkas Prihasto.
Ditemui secara terpisah, Sri Wijayanti Yusuf selaku Direktur Perlindungan Hortikultura, meminta UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH), Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (PHP) dan Laboratorium Agens Hayati (LAH) agar lebih intensif lagi melakukan gerakan pengendalian OPT ramah lingkungan.
Caranya dengan menggunakan bahan pengendalian OPT ramah lingkungan dan terus menyebarluaskannya ke petani, “diharapkan penerapan budi daya cabai ramah lingkungan di Kabupaten Blitar dapat meningkat sehingga petani sedikit demi sedikit dapat mengurangi ketergantungan pada penggunaan pestisida kimia sintetik,” ungkap Yanti. (Imas/Red)
- SOSIALISASI KOPI BER SNI UPAYA JATIM TINGKATKAN NILAI PETANI KOPI
- AGAR SEIMBANG PEMERINTAH DAERAH DAPAT REALOKASI PUPUK BERSUBSIDI
- KEMENTAN BILANG TERSEBAR ISU LANGKANYA PUPUK SUBSIDI TAK BENAR
- UNTUK KESEJAHTERAAN ANGGOTA DPRD HIMBAU LAKUKAN INOVASI PASAR DAN BERI PEMBIAYAAN BAGI PETANI
- PETANI MELON BISA AJUKAN PENDAMPINGAN DAN ALAT BANTU PENGELOLAAN
Wagata Berita wagata berita adalah website yang berisikan berita-berita terkini.