WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Saat melihat kerajinan tas kulit, langkahnya terhenti. Tas tenteng berwarna putih dengan motif ular dan tas ransel bermotif kotak elegan bewarna hitam membuat dirinya terpesona.
Dia adalah Marianne Eva Engle, istri ekonom internasional peraih Nobel Laureate pada tahun 2003 yakni Prof. Fry Engle III. Saat berkunjung ke kawasan kerajinan Jl. Kedungdoro 86 – 90 Surabaya, wanita bertubuh tinggi semampai itu, sangat kagum saat melihat kerajinan khas Jawa Timur (Jatim).
Tas tenteng menarik perhatian Marianne itu merupakan produk IKM Handmade dari Kota Surabaya. Sementara tas kulit warna hitam, merupakan produk dari IKM Tanggulangin, Sidoarjo.
Marianne mengaku, harga yang ditawarkan di Dekranasda Jatim itu terbilang sangat murah, berbeda jauh dengan produk yang sering ia jumpai di luar negeri. “Kualitas produk di Dekranasda ini, sangat bagus dan harganya terjangkau. Produk tas seperti ini, jika di luar negeri bisa mencapai 10 kali lipat,” tuturnya.
Ketua Dewan Kerajinan Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Timur (Jatim) Dra. Hj. Nina Soekarwo M.Si mengatakan, Ketika itu dengan lugas, Bude Karwo mempromosikan produk – produk Industri Kecil Menengah (IKM) mulai dari Batik, Tas Kulit, Kerajinan Tangan, Buah Tangan hingga produk – produk makanan sudah dikemas rapi.
Bude Karwo yang mendampingi Marianne Eva Eagle menuturkan, produk – produk yang ditampilkan di Dekranasda merupakan produk asli dari perajin – perajin UKM dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur.
Sementara itu, Marianne terlihat antusias melihat kerajinan tangan yang terbuat dari perak dan perunggu yang dipamerkan dalam showroom Dekranasda. Sesekali, tangan Marianne menunjuk dan mengangkat batik tulis bewarna hijau gelap bermotif akar bunga.
Sebelum mengunjungi Dekranasda Jatim, rombongan terlebih dahulu mengunjungi House Of Sampoerna (HOS). Sama halnya, di Dekranasda Marianne terlihat sangat menikmati produk – produk sejarah di ruang pamer yang mempunyai nilai historis tinggi bagi pemiliknya, yaitu Liem Seeng Tee pendiri PT. Sampoerna. Apalagi General Manager HOS, Ina Silas menjelaskan seluruh isi museum dengan gaya khasnya dan menarik perhatian siapapun yang mendengarkan penjelasannya.
Museum HOS menempati bangunan tua buatan tahun 1864 terletak di kawasan Jembatan Merah, kawasan “kota tua” tepatnya di Jl. Taman Sampoerna No. 6 Krembangan Utara Surabaya. Museum ini memiliki dua lantai. Lantai pertama berfungsi sebagai ruang pamer, sedangkan lantai kedua berfungsi sebagai tempat penjualan souvenir.
Yang menarik bagi Marianne adalah adanya replika warung sederhana bernuansa ndeso milik pendiri Liem Seeng Tee dan istrinya Siem Tjiang Nio. Berisi toples makanan, keranjang, buah – buahan serta cengkeh dan tembakau yang teronggok dan menebarkan aroma yang semerbak, berasal dari berbagai daerah sebagai cikal – bakal perusahaan PT. Sampoerna.
Bagian yang menarik lainnya adalah replika warung rokok yang sering kita temui di pinggir jalan pada tahun 90 – an sampai awal tahun 2.000 – an. Ini merupakan ujung tombak penjualan rokok keluaran pabrik PT. Sampoerna.
Dari lantai dua, dapat dilihat kegiatan para pekerja pabrik yang sedang melinting rokok, dimana rata – rata pekerja pelinting rokok adalah kaum perempuan. Mereka mempunyai kecepatan 325 batang rokok per jam.
“Bisa dibayangkan kecepatan mereka dalam melinting batang rokok,” ungkapnya Inna Silas. Sebelum mengakhiri kunjungannya, Marianne menyempatkan diri untuk membeli beberapa cinderamata. (Haludin Ma’waledha/Dir)
Wagata Berita wagata berita adalah website yang berisikan berita-berita terkini.