Rabu, 10 Juni 2026, 19:22
Home / PROBOLINGGO / RITUAL PUJAN KESANGA, WARGA SUKU TENGGER PAWAI OBOR DAN ARAK OGOH – OGOH
Warga Suku Tengger Menggelar Ogoh - Ogoh. Sumber Foto : Zulkiflie

RITUAL PUJAN KESANGA, WARGA SUKU TENGGER PAWAI OBOR DAN ARAK OGOH – OGOH

WAGATABERITA.COM – PROBOLINGGO. Warga umat Hindu yang tinggal di lereng Gunung Bromo, menggelar Ritual Pujan Kesanga, atau pemujaan di bulan kesembilan kalender Hindu Tengger, Kamis malam, (20/04/2017), Ritual diawali doa bersama di balai desa Jetak kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo Jawa Timur.

Pujan kesanga, merupakan tradisi tahunan bagi warga suku Tengger, yang digelar secara turun – temurun semenjak nenek moyang mereka lahir. Prosesinya, menyediakan seserahan berupa Tumpeng, aneka hasil bumi baik dari pertanian maupun ternak warga.

Seserahan, lantas dibacakan doa – doa oleh tokoh agama suku Tengger, dengan keyakinan bahwa alam semesta, dijaga oleh Sang Hyang Widi yang menjelma berwujud para Dewa, atau Dewata Nawasanga yakni 9 Dewa. 9 dewa itu, meliputi Dewa Wisnu, Sambu, Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara dan Siwa.

Puncak Ritual Pujan Kesanga, ratusan warga suku Tengger lantas melakukan pawai Obor, dan mengarak sejumlah perangkat peribadatan seperti Pratima, senjata berupa Tombak, dan Cakra.

“Bagi masyarakat tengger makna pujan kesanga, itu untuk menyelamati desa agar jauh dari gangguan roh – roh jahat, sehingga bisa hidup tenang, aman dan tentram,” kata Marsoto,warga suku Tengger.

Selain pawai Obor, warga suku Tengger juga mengarak sejumlah Ogoh – ogoh, dengan tujuan agar Setan – setan yang ada di sekitar desa, ikut bersama boneka raksasa yang bernama lain Butha Kala itu.

Usai mengelilingi desa, Ogoh – ogoh kemudian dibakar, dengan maksud memusnahkan sifat – sifat Negatif yang ada di dalam diri manusia.

Tokoh masyarakat Probolinggo, Hasan Aminuddin menyampaikan Tradisi Pujan Kesanga merupakan salah satu tradisi leluhur yang perlu terus dilestarikan, karena mampu merekatkan hubungan silaturrahmi antar warga. Dengan adanya ritual ini, masyarakat bisa berkumpul dan meminimalisir terjadinya pertikaian antar warga, sehingga dapat tercerminlah perwujudan akan pengamalan Pancasila. (Zulkiflie/Dir)

Check Also

KUNJUNGI BROMO KHOFIFAH HIMBAU JANGAN NODAI DENGAN SAMPAH SERTA DUKUNG BEBAS KENDARAAN

WAGATABERITA.COM – PROBOLINGGO. Guna mendukung pengembangan potensi pariwisata