Senin, 7 September 2026, 1:00
Home / HOTNEWS / 72 TAHUN INDONESIA MERDEKA, WONG CILIK TETAP SAJA MISKIN
Sumardi (Kanan) Saat Berfoto Di Tempat Ia Nembuat Kusen Rumah Di Kelurahan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya. Sumber Foto: Haludin Ma'waledha

72 TAHUN INDONESIA MERDEKA, WONG CILIK TETAP SAJA MISKIN

WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Indonesia merdeka sudah 72 tahun. Hari Kamis, 17 Agustus 2017, merupakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 72 yang diperingati di seantero negeri.

Begitu pula warga Indonesia di luar negeri, ikut memperingati dengan melaksanakan upacara bendera merah putih di kantor – kantor perwakilan pemerintah Indonesia (duta besar) di luar negeri.

Di tanah air dari Sabang sampai Merauke, merah putih menghiasi jalan – jalan utama maupun di perkampungan – perkampungan, merah putih berkibar melambai – melambai.

Lagu – lagu kemerdekaan, Indonesia Raya, terus bergemah. Ini wujud memeriahkan 72 tahun Indonesia Merdeka.

Tapi bagi masyakat kelompok marginal atau masyarakat kurang mampu (miskin), 72 tahun Indonesia Merdeka, tak banyak berarti bagi perubahan kehidupan mereka. Tetap saja miskin.

Sejak Indonesia merdeka, saya tetap saja seperti ini. Menjadi tukang buat kusen rumah,” ujar Sumardi (70), warga Kelurahan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya.

Pria kelahiran Madiun 1949 itu menggeluti pekerjaan sebagai tukang pembuat kusen rumah, sejak tahun 1971. Sumardi pernah bekerja di Segiri, Kalimantan Timur (Kaltim), juga sebagai tukang buat kusen rumah. Dia juga pernah membuat kusen untuk kantor Gubernur Bali tahun 1977. Di sana, ia bekerja selama 2 tahun.

Setelah itu, tahun 1980, pria yang memiliki 6 anak ini, mulai bekerja sendiri. Tidak lagi ikut perusahaan orang. “Ikut orang itu tidak enak. Kalau kerja sendiri biar hasilnya sedikit, tapi lega rasanya,” tandas Sumardi.

Lalu apa komentarnya, setelah 72 tahun Indonesia merdeka? Sangat sederhana. Kata dia, meski Indonesia sudah merdeka 72 tahun, bagi wong cilik (rakyat kecil), biasa saja. Tetap miskin tak punya apa – apa. Bahkan ada yang belum memiliki rumah di negerinya sendiri. “Contohnya saya sendiri,” tandasnya, lalu menambahkan saat ini dia bersama sang istri dan 3 anaknya masih tinggal di rumah ukuran kecil. Itu pun dipinjamkan oleh orang. “Tempat ini dipinjamkan untuk tinggal. Kalau saya kontrak, pasti tidak mampu bayar,” tandasnya, seraya menambahkan, Indonesia sudah merdeka dari penjajah, tapi secara ekonomi masih terjajah.

Sumardi, termasuk beruntung karena satu putranya, kuliah di Universitas Airlangga (Unair) Surbaya, semester terakhir. Satu lagi masih duduk di bangku SD dan mendapat Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Selain itu, tiap bulan mendapat bantuan beras senilai Rp 120 ribu. Tapi ia terima dua bulan sekali di kantor kelurahan sebanyak 25 kg. “Hanya sayangnya tidak bisa dimakan karena berasnya rusak,” ujarnya.

Senada juga dikemukakan Sekar (75), penjual arang di Kota Surabaya.

Kata Sekar, meski Indonesia Merdeka dari bangsa penjajah, tapi rakyat kecil tetap saja miskin. “Buktinya saya ini dari sejak usia muda hingga sekarang tetap masih sengsara,” tutur nenek yang sudah menjada sejak tahun 1998 itu.

Saat ditemui, nenek Sekar, sedang mengemas arang dagangannya. Satu persatu dimasukan ke dalam kantong berwana hitam, tiap kantong berisi satu kilogram arang. Harganya Rp 10 ribu. Hasil jualannya hanya cukup untuk makan sehari – hari. “Jualan arang ini untuk biaya makan sehari – hari,” tandas sang nenek yang melanjutkan usaha suaminya yang telah meninggal sejak 1998 lalu.

Ketika ditemui, Sekar terlihat sedih bercampur was – was ketakutan. “Saya ini jualan seorang diri pak. Jadi rasa takut itu selalu ada. Usia saya pun, sudah sampun sepuh (sudah tua),” tuturnya dengan mata berkaca – kaca.

Meski, Sekar seorang janda, tapi tidak pernah mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah. *Haludin Ma’waledha)

Check Also

AJAK KOMPAK ORANG TUA SISWA PETRA 5 ADAKAN FUN RUN

WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Student Learning Outcomes atau Disingkat SLO