Rabu, 26 Juni 2019, 5:12
Home / NEWS / SEMARAK TRADISI “LIKURAN” DI PROBOLINGGO

SEMARAK TRADISI “LIKURAN” DI PROBOLINGGO

WAGATABERITA.COM-PROBOLINGGO, Masyarakat Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo punya sebuah tradisi spesial tiap Ramadan ke-12.

Festival khas Kecamatan Krucil yang selama ini dilaksanakan pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan itu berangkat dari sebuah tradisi luhur “Likuran”.

Dimana saat itu masyarakat mengharap berkah Ramadhan dengan cara saling berbagi makanan kepada sesama, termasuk kepada para pemusik patrol penghantar sahur.

Beberapa penggiat seni setempat kemudian mewadahi tradisi ini dengan mengadakan festival seni musik patrol, yang kemudian berkembang pesat dan menjadi hiburan yang sangat digemari karena adanya perpaduan seni dan filosofi leluhur didalamnya.

Masing-masing kelompok peserta ini memainkan perpaduan seni musik etnik tradisional ‘okol’ dan ‘kenong telok’ dengan tempo cepat dan rancak, tembang yang mereka bawakan pun kebanyakan tembang tradisional Jawa Timuran dan sholawatan yang bernuansa Islami.

Hasilnya kombinasi antara suara kentrung, kenong, gamelan serta suara drum plastik yang menjadi penuntun ketukannya mampu menghasilkan harmoni musik yang khas.

“Alat musik kenong telok sendiri merupakan warisan leluhur kita semasa perjuangan Sunan Kalijogo. Dimana kata ‘telok’ yang berarti tiga disini mempunyai filosofi keislaman yang bermakna Islam, Iman dan Iksan. Tiga hal ini diharapkan dimiliki oleh setiap insan muslim,” ungkap Sugiono, penggagas Festival Ramadhan Krucil, Rabu (29/5/2019).

Pria kelahiran Pacitan, pemilik Sanggar Seni El Gibran ini mengemukakan, selain bertujuan melestarikan seni budaya lokal, kegiatan tahunan ini diharapkan menjadi ajang bagi para pemuda dalam mengekpresikan diri melalui seni musik. Ramainya masyarakat yang memadati sepanjang jalan juga menjadi berkah tersendiri bagi para pedagang kaki lima.

“Minimal kami telah meneruskan tanggung jawab untuk melestarikan seni budaya lokal ini. Kami harap seni budaya ini kedepannya lebih dikenal luas sebagai salah satu kekayaan seni budaya Kabupaten Probolinggo,” tandasnya.

Sementara Camat Krucil, Febrya Ilham Hidayat mengaku termotivasi melihat adanya tradisi yang mengangkat seni budaya di wilayahnya itu. Hal ini merupakan wahana motivasi bagi pihaknya untuk menggali lebih jauh lagi budaya-budaya lain yang ada di sekitar masyarakat.

“Sehingga harapan kami, festival ini juga akan menjadi pendongkrak kunjungan wisata. Saya harap penyelenggaraan festival ini terus konsisten dan kedepan supaya dikemas lebih apik lagi agar mampu menarik minat wisatawan,” pungkasnya. (Zulkiflie)

Check Also

BERBAGAI TAHAPAN VERIFIKASI DILAKUKAN PADA PENYALURAN PROGRAM BK DESA

WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa