WAGATABERITA.COM – TRENGGALEK. Wakil Bupati Trenggalek, Mochammad Nur Arifin Hadiri Upacara Adat Grebeg Selo Bale uang digelar oleh masyarakat Dusun Winong Desa Sumurup Kecamatan Bendungan Kabupaten Trenggalek. Kegiatan tersebut digelar sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta atas berkah yang didapat selama musim panen padi tiba.
Uniknya, upacara adat tersebut digelar pada hari Jumat legi Tracapan yang ada dalam setiap setahun sekali.
Seperti yang terlihat diplomasi, masyarakat Dusun Winong Desa Sumurup menggelar upacara adat ini di kawasan Taman Batu Selo Bale, oleh karena itu upacara ini disebut dengan Grebeg Selo Bale.
- TRADISI ADAT BERSIH DAM BAGONG TRENGGALEK DILESTARIKAN
- WUJUD SYUKUR, NELAYAN DI TRENGGALEK LAKUKAN LARUNG SEMBONYO
- RITUAL PUJAN KESANGA, WARGA SUKU TENGGER PAWAI OBOR DAN ARAK OGOH – OGOH
- SAMBUT MUSIM TANAM PADI, PETANI PROBOLINGGO BALAPAN KUDA JEPANG
- TARIAN TRADISIONAL DAN TRADISI PEDANG PORA WARNAI PENYAMBUTAN KAPOLRES SITUBONDO
Tradisi tersebut diketahui, sudah dilakukan turun temurun sejak kurang lebih 60 tahun yang lalu.
Taman Batu Selo Bale digunakan untuk menggelar tradisi tersebut, dikarenakan Selo Bale memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai tempat wisata. Grebeg Selo Bale merupakan tradisi masyarakat petani mengungkapkan syukur atas hasil pertanian dan dijauhkan dari hama yang mengganggu tanaman. Hal tersebut diwujudkan dengan membakar ogoh – ogoh (replika raksasa) yang terbuat dari jerami.
Wakil Bupati Trenggalek, H. Mochamad Nur Arifin yang hadir dalam upacara adat tersebut melihat bahwa masyarakat memiliki rasa syukur yang besar. Hal tersebut, menurut wabup, dapat dilihat dari keikhlasan setiap warga untuk menyajikan ayam lodho (makanan khas Trenggalek) dalam upacara adat Grebeg Selo Bale.

“Poin pentingnya adalah masyarakat mempunyai inisiasi untuk bagaimana membuat event di tingkat Desa – nya masing – masing dan ini sebenarnya upacara adat ucap syukur di lokasi yang namanya Selo Bale, dan saya rasa ini menjadi tempat wisata yang menarik,” ucap Arifin, Jum’at (26/01/2018).
Diakui Arifin, dirinya menantikan adanya simbolisasi pembakaran ogoh – ogoh. Hal ini dilakukan sebagai bentuk bahwa biar sawah – sawah disini tidak ada hama, biar dijauhkan dari musibah.
“Salah satu kegiatan ini sangat menarik sekali sebenarnya kalau wisatawan disuguhi adat budaya yang seperti ini dan ini harus kita lestarikannya,” imbuhnya. (Ayu Mila Sari/Halu)
Wagata Berita wagata berita adalah website yang berisikan berita-berita terkini.