Sabtu, 2 Mei 2026, 17:38
Home / KESEHATAN / DIABETES TIPE II, 90 PERSEN DISEBABKAN GAYA HIDUP
Dr. Grace Judio, Kahl, M.Sc (Pakar Kesehatan). Sumber Foto : Haludin Ma’waledha

DIABETES TIPE II, 90 PERSEN DISEBABKAN GAYA HIDUP

WAGATABERITA.COM – SUARABAYA. Generasi muda harus berhati – hati dengan penyakit Diabetes, terutama bagi mereka yang memiliki gaya hidup atau pola makan berlebihan, sebab 90 persen penderita Diabetes tahap II disebabkan gaya hidup (lifestyle) dengan pola makan berlebihan, kata Dr Grace Judio, Kahl, M.Sc, pemerhati gaya hidup, usai tampil sebagai pembicara pada acara Kampanye Indonesia Lawan Diabetes 2017 di Hotel Sheraton Surabaya, Minggu (23/07/2017).

Grace, yang juga dikenal sebagai pakar kesehatan ini, menyarankan kepada orang tua agar memperhatikan pola makan putra – putrinya sehingga makanan yang dikonsumsi tidak menyebabkan kegemukkan (obesitas). Sebab orang mengalami kegemukkan (obesitas), rentan terhadap penyakit Diabetes.

Kepada masyarakat, Grace diimbau, untuk mengatur pola makan dengan tidak berlebihan guna menghidari penyakit Diabetes.

Selain itu, cara menghindari Diabetes harus lebih banyak bergerak. Kalau sudah duduk selama 30 menit, sebaiknya berdiri dan berjalan – jalan lebih kurang tiga menit.

Penyakit Diabetes saat ini tidak lagi mengenal usia, tapi mulai dari anak – anak, remaja dan usia dewasa, baik perempuan maupun pria. Ini disebabkan pola makan yang berlebihan. Pria yang mengalami perut buncit hingga 90 cm dan perempuan dengan perut buncit 80 cm, bisa menimbulkan penyakit Diabetes. Bagi kaum perempuan yang hamil, juga harus rajin berkonsultasi dengan dokter kandungan, agar dirinya dan bayi yang akan dilahirkan terhindar dari penyakit Diabetes. Sebab, umumnya kaum perempuan yang menderita penyakit Diabetes, sudah pernah melahirkan.

Biasanya ibu hamil tidak mampu mengontrol pola makannya, alasannya untuk memberikan asupan gizi yang cukup terhadap janin yang dikandungnya.

Jika berat badan seorang ibu hamil, bukan disebabkan dari pertumbuhan janin yang dikandungnya, itu perlu berkonsultasi dengan dokter agar tidak mengalami kegemukkan yang berlebihan, kata Grace.

Acara ini diprakarsai PT Kalbe dan sudah menjadi program tahunan sebagai upaya memerangi penyakit Diabetes.

Upaya memerangi penyakit Diabetes, perlu dilakukan secara konsisten dan menyeluruh mengingat Indonesia sudah menduduki peringkat ke – 7, tertinggi di dunia populasi penderita Diabetes.

“Sejalan dengan visi dan misi PT Kalbe untuk membantu meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia menuju kehidupan yang lebih baik. PT Kalbe melalui salah satu produknya yang merupakan pemimpin pasar dalam kategori pangan nutrisi untuk Diabetes, menggalang kampanye Gerakan Indonesia Lawan Diabetes sebagai wujud komitmennya untuk memerangi Diabetes Miletus di Indonesia secara konsisten setiap tahun,” kata Diny Elvirani selaku Group Business Unit Special Needs and Healthy Lifestyle, Kalbe Nutritionals.

Gerakan Indonesia Lawan Diabetes merupakan program kemitraan antara PT Kalbe dengan Kementrian Kesehatan RI, berupa seminar edukasi Diabetes, baik kepada masyarakat awam maupun tenaga medis.

Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, Diabetes merupakan pembunuh nomor 3 di Indonesia, setelah penyakit jantung yang menduduki peringkat pertama dan stroke yang menduduki peringkat ke – 2. Statistik prevalensi penderita Diabetes Miletus di Indonesia berdasarkan kelompok usia menunjukkan bahwa 2 dari 100 penderita, berusia antara 25 – 34 tahun.

Sementara 48% penderita Diabetes berasal dari kalangan usia 35 – 44 tahun dan kebanyakan dari mereka, awalnya tidak menyadari bahwa dirinya menderita Diabetes. Fakta ini menunjukkan bahwa Diabetes Miletus sudah mulai menyerang golongan masyarakat usia produktif dan tingkat pemahaman akan gejala dan bahaya Diabetes, masih sangat rendah.

Seminar edukasi untuk kalangan medis yang diadakan Kampanye Indonesia Lawan Diabetes persembahan PT Kalbe tahun ini, merupakan kelanjutan dari acara edukasi medis tahun lalu, dimana tahun ini mengusung tema “Medical Diabetic Nutrition Therapy Through Cognitive Management Treatment with Traffic Light Diabetic Method.”

Data Riskesdas tahun 2013 juga menunjukkan bahwa faktor penyebab kematian akibat penyakit tidak menular seperti Diabetes Miletus terjadi karena gaya hidup yang tidak sehat.

Merujuk dari data tersebut, seminar edukasi Gerakan Indonesia Lawan Diabetes menghadirkan 3 narasumber yang menjadi pembicara dan mengangkat tema yang berbeda, yaitu bagaimana menjalani gaya hidup sehat melalui pengaturan pola makan, olahraga yang sesuai untuk Diabetisi dan keseimbangan jiwa, dilengkapi dengan tools penggambaran traffic light diabetic method (Merah Oranye Hijau) yang mudah dipahami.

Warna merah menunjukan peringatan untuk hal – hal yang perlu dihindari, warna oranye menunjukan hal – hal yang dapat dilakukan sesekali dan warna hijau menunjukan hal – hal yang bagus untuk dilakukan.

Salah satu topik yang sangat umum, namun belum banyak dipahami masyarakat adalah, adiksi terhadap karbohidrat sederhana yang mudah memacu kadar gula dalam darah. Pada negara – negara berkembang, konsumsi karbohidrat berkisar 70 – 80 persen dari total kalori. Ini dapat dipahami, sebab sumber makanan yang mengandung karbohidrat, harganya lebih terjangkau, dibandingkan sumber makanan yang mengandung protein dan lemak.

“Jenis karbohidrat sederhana, mudah dipecah karena struktur kimianya yang sederhana. Pemecahan ini dapat berlangsung dalam waktu singkat dan cepat diserap tubuh. Akibatnya kadar gula darah dapat naik dengan segera, hanya beberapa saat setelah mengkonsumsinya. Cognitive Behaviour Therapy dengan Traffic Light Rules merupakan salah satu teknik untuk memutuskan rantai adiksi akan karbohidrat sederhana,” jelas Dr. Grace Judio.

Brand Manager Diabetasol Yunita Chandrawati, berharap kampanye Gerakan Indonesia Lawan Diabetes, bisa memberikan dukungan berupa edukasi kepada masarakat dan juga bisa menerima dukungan dari masyarakat, agar upaya untuk meminimalisir jumlah penderita Diabetes di Indonesia bisa tercapai. (Haludin Ma’waledha)

Check Also

AJAK KOMPAK ORANG TUA SISWA PETRA 5 ADAKAN FUN RUN

WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Student Learning Outcomes atau Disingkat SLO