Selasa, 23 Oktober 2018, 8:25
Home / NEWS / KEMENTERIAN ESDM JAMIN KEAMANAN PENGGUNAAN “JARGAS”
Forum diskusi program "Jargas"

KEMENTERIAN ESDM JAMIN KEAMANAN PENGGUNAAN “JARGAS”

WAGATABERITA.COM – PROBOLINGGO. Pejabat Kementerian Energi Sumber Daya Mineral RI, Arif Rahman menjamin keamanan, penggunaan jarigan gas (Jargas), yang nantinya akan digunakan warga tidak mampu, Rabu (10/10/2018).

Kepastian itu disampaikan, Arif Rahman saat berdiskusi dengan Bagian Administrasi Perekonomian dan SDA, serta para kepala desa Kecamatan Sumberasih, Tongas, dan Dringu yang digelar di Kantor Kecamatan Tongas.

Arif Rahman menjelaskan, jika jaringan gas lebih aman penggunaannya, dibanding gas elpiji ukuran 3 kilogram yang dipakai masyarakat saat ini.

Arif menyebut, tekanan yang berada di dalam saluran jaringan gas lebih kecil, dari gas elpiji ukuran 3 kilogram.

Dimana untuk Jargas, sekitar 0,3 bar atau ¾ dari tekanan korek api. Sementara untuk gas elpiji 3 kilogram, sebesar 20 bar atau setara dua kali lipat tekanan gas pada ban mobil.

“Tekanan dalam Jargas lebih aman saat terjadi kebakaran, asalkan tidak ada sumber api lain yang menyala di dekat kompor gas,” katanya.

Lanjut Arif, jaringan gas yang akan dipasang ke rumah penduduk nantinya, memiliki daya tekanan yang sangat rendah. Dari hitungan yang ada, secara sistem meteralisasi tekanan maksimal hanya 0,3 bar atau lebih rendah dari tekanan korek api.

“Dengan tekanan yang sangat rendah itu, akan sangat kecil kemungkinan terjadi ledakan, hingga kebakaran. Kalau pun terjadi kebocoran, akan keluar suara dan nanti secara sistem, meteran gas menstop jaringan gas,” terangnya.

“Pemahaman ini masih sedikit di ketahui masyarakat, karenanya saat program pertama kali dilakukan, biasanya banyak warga yang menolak lantaran khawatir terjadi ledakan saat terjadi kebocoran,” tukasnya.

Arif mengungkapkan, bahwa sejauh ini banyak pipa yang sudah di pasang, atau ditanam di sisi kiri rel kereta api. Dan sampai saat ini belum terjadi ledakan gas karena sebuah kebocoran pemakaian.

“Dulu di Surabaya saat mengawali program tahun 2015 banyak yang takut. Tapi sekarang lebih dari 60 persen penduduk Surabaya, memanfatkan jaringan gas,” tandasnya.

Oleh karenanya Arif berharap, para kepala desa yang nantiya mendapatkan alokasi jaringan gas, untuk memberikan pemahaman kepada seluruh warga, agar tidak takut pada pemasangan pipa gas.

Hal itu Arif menilai penting, sebab jika menolak maka akan diberikan berita acara penolakan dipasang pipa gas. Dan apabila beberapa bulan berikutnya malah ingin memasang pipa gas, akan dikenakan biaya.

“Saat ini masih disubsidi pemerintah, makanya tidak ada biaya pemasangan sama sekali, dari pipa induk ke rumah warga. Tapi ini hanya untuk warga yang tidak mampu saja,” tegasnya.

Sementara Kabag Administrasi Perekonomian dan SDA, Kabupaten Probolinggo, Santoso menyebutkan, jika konstruksi akan dilakukan pada tahun 2019 mendatang, atau tinggal 6 bulan lagi.

Oleh karenanya, menurut Santoso Pemkab Probolinggo, gencar melakukan sosialiasi kepada seluruh komponen masyarakat, yang akan menerima program Jargas.

Berdasarkan data, alokasi untuk Kabupaten Probolinggo, sejumlah 10 sambungan rumah yang tersebar di Kecamatan Sumberasih, Dringu dan Tongas.

Pilihan jatuh pada tiga kecamatan itu, lantaran tiga kecamatan setempat merupakan wilayah, yang dilalui pipa induk gas milik Perusahaaan Gas Negara dan Pertamina selaku penyalur dan distributor gas di Indonesia.

“Secara bertahap bisa memenuhi untuk seluruh kecamatan. Tapi butuh waktu karena pemasangan pipa induk membutuhkan dana ratusan miliar untuk satu kabupaten, dengan karakteristik wilayah seperti Kabupaten Probolinggo,” urainya. (Zulkiflie)

Check Also

KUNJUNGI LOMBOK PRESIDEN PANGKAS 17 PROSEDUR PENCAIRAN DANA BANTUAN JADI 1 PROSESUR

WAGATABERITA.COM – LOMBOK. Presiden Joko Widodo bertolak ke Kabupaten Lombok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *