Senin, 28 September 2020, 10:06
Home / SURABAYA / VIRAL FILM TILIK TUAI KRITIKAN KATA PAKAR KAJIAN UNAIR ADALAH WUJUD KEBERHASILAN
Film Tilik.

VIRAL FILM TILIK TUAI KRITIKAN KATA PAKAR KAJIAN UNAIR ADALAH WUJUD KEBERHASILAN

WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Yogyakarta bersama Racavana Film memproduksi sebuah film pendek berjudul Tilik yang akhirnya menjadi viral dan menjadi perbincangan di media sosial.

Bahkan tagar #Tilik dan #BuTejo pun beberapa hari terakhir berhasil menduduki rangking tranding di Twitter sebab film yang mengambil latar tempat di Yogyakarta itu bercerita tentang perjalanan seorang ibu yang hendak menjenguk atau tilik Bu Lurah di rumah sakit kota.

Bu tejo salah satu pemeran bersifat cerewet, judes, dan ceplas – ceplos yang saat melakukan perjalanan dengan menaiki truk bersama ibu – ibu desa lainnya bergunjing tentang Dian salah seorang warga yang masih berstatus lajang membuat Tilik mendapat jumlah viewers hingga 17 M.

Tetapi viralnya film tak membuat film yang disutradai oleh Wahyu Agung Prasetyo tak menuai kritikan dan banyak anggapan film tersebut melanggengkan stereotip yang menganggap perempuan memiliki kebiasaan sebagai tukang gosip, mengandung misoginis, dan tidak memiliki pesan moral yang bermutu.

Seorang dosen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Igak Satrya Wibawa, S.Sos., MCA., PH.D menanggapi bahwa beragam kritikan berhasil memancing kesadaran masyarakat akan persoalan stereotip dan posisi lemah perempuan dalam budaya patriarki yang masih banyak terjadi dan belum tuntas.

Kesadaran akan hal itu perlu dipancing salah satunya melalui sebuah karya film, “ada konsep dan penggambaran tentang perempuan yang perlu dipertanyakan dan menarik untuk didiskusikan dalam film Tilik. Hal itulah yang justru patut diapresiasi dari sisi yang berbeda karena konsep itu berhasil menajadi sebuah lokasi dialektika,” terang Dosen mata kuliah Kajian Sinema itu di Surabaya, Rabu (02/09/2020).

Sebuah karya film harus siap dikritik dan diinterpretasikan atau dibaca maknanya oleh masyarakat, kritik adalah bagian dari pembacaan sebuah film yang bagus sehingga menunjukkan penonton tidak hanya berperan sebagai penikmat tetapi juga memerhatikan dan mampu merespon.

“Saya tidak dalam posisi membenarkan atau membantah kritik – kritik yang muncul karena setiap individu memiliki konteks dan latar belakang berbeda dalam menafsirkan. Justru saya melihat dialektika yang terjadi menunjukkan ‘suksesnya’ film tersebut dalam mengusik pemikiran penonton, memunculkan banyak pertanyaan, keraguan, kritikan, dan juga pujian dalam waktu yang bersamaan. Namun saya menyayangkan masih banyak orang yang belum bisa menerima kritik film sebagai bagian yang bermanfaat dalam filmmaker” ungkap mas Igak sapaan akrabnya.

Berdurasi 32 menit film Tilik mampu membangkitkan kreativitas seperti munculnya meme, stiker Bu Tejo, istilah baru, dan dibincangkan, “sebagai film pendek, Tilik sebagai sebuah film pendek menunjukkan sebuah proses dialektika yang menarik. Semoga setelah ini banyak orang yang kembali membuat film pendek menarik lainnya,” harap Igak. (Red)

Check Also

DUA SAKSINYA DITOLAK PENGACARA BS DAN HAKIM DISIDANG LALU INI KESAKSIAN SAKSI FAKTA PT ANTAM PADA SIDANG INI

WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Pengadilan Negeri (PN) Surabaya kembali