Rabu, 28 Juli 2021, 15:14
Home / JAKARTA / ATURAN SHALAT IDULADHA DAN QURBAN TERBARU
Shalat Ied. (Dokumen)

ATURAN SHALAT IDULADHA DAN QURBAN TERBARU

WAGATABERITA.COM – JAKARTA. Dituangkan dalam Surat Edaran Menteri Agama, SE. 15 Tahun 2021, Kementerian Agama menerbitkan edaran tentang penerapan protokol kesehatan dalam penyelenggaraan Shalat Iduladha 1442 H/2021 M dan pelaksanaan qurban di masa pandemi covid – 19.

Dikutip laman Kemenag Rabu (23/06/2021), “untuk memberikan rasa aman kepada umat Islam di tengah pandemi covid – 19 yang belum terkendali dan munculnya varian baru, perlu dilakukan penerapan protokol kesehatan secara ketat dalam penyelenggaraan Shalat Iduladha dan pelaksanaan qurban 1442 H,” kata Menag Yaqut Cholil Qoumas.

Terbitnya panduan guna pencegahan, pengendalian, dan memutus mata rantai penyebaran covid – 19 yang ditujukan pada seluruh jajaran Ditjen Bimas Islam, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi, Kepala Kankemenag Kabupaten/Kota, Kepala KUA Kecamatan, pimpinan Ormas Islam, pengurus masjid dan musala, panitia peringatan hari besar Islam, serta masyarakat muslim di Indonesia.

Pesan Menag, “Pejabat Kementerian Agama di tingkat pusat melakukan pemantauan pelaksanaan Surat Edaran ini secara hierarkis melalui instansi vertikal yang ada di bawahnya,” tegasnya.

Isi ketentuan SE 15/2021 tentang Penerapan Protokol Kesehatan pada Penyelenggaraan Shalat Iduladha dan Pelaksanaan qurban Tahun 1442 H/2021 M adalah :

1. Malam takbiran menyambut Hari Raya Iduladha pada prinsipnya dapat dilaksanakan di semua masjid/musala, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Dilaksanakan secara terbatas, paling banyak 10 persen dari kapasitas masjid/musala, dengan memperhatikan standar protokol kesehatan covid – 19 secara ketat, seperti menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.
b. Kegiatan takbir keliling dilarang untuk mengantisipasi keramaian atau kerumunan.
c. Kegiatan takbiran dapat disiarkan secara virtual dari masjid/musala sesuai ketersediaan perangkat telekomunikasi di masjid/musala.

2. Shalat Hari Raya Iduladha 10 Zulhijjah 1442 H/2021 M di lapangan terbuka atau di masjid/musala pada daerah Zona Merah dan Oranye ditiadakan.
3. Shalat Hari Raya Iduladha 10 Zulhijah 1442 H/2021 M dapat diadakan di lapangan terbuka atau di masjid/musala hanya di daerah yang dinyatakan aman dari covid – 19 atau di luar Zona Merah dan Zona Oranye, berdasarkan penetapan Pemerintah Daerah (pemda) dan Satuan Tugas Penanganan covid – 19 setempat.

4. Dalam hal Shalat Hari Raya Iduladha dilaksanakan di lapangan terbuka atau di masjid, sebagaimana dimaksud pada angka 3, wajib menerapkan standar protokol kesehatan covid – 19 secara ketat, dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Shalat Hari Raya Iduladha dilaksanakan sesuai dengan rukun shalat dan penyampaian Khotbah Iduladha secara singkat, paling lama 15 menit.
b. Jemaah Shalat Hari Raya Iduladha yang hadir paling banyak 50 persen dari kapasitas tempat agar memungkinkan untuk menjaga jarak antarshaf dan antarjemaah.
c. Panitia Shalat Hari Raya Iduladha diwajibkan menggunakan alat pengecek suhu tubuh dalam rangka memastikan kondisi sehat jemaah yang hadir.

d. Bagi lanjut usia atau orang dalam kondisi kurang sehat, baru sembuh dari sakit atau dari perjalanan, dilarang mengikuti Shalat Hari Raya Iduladha di lapangan terbuka atau masjid/musala.
e. Seluruh jemaah agar tetap memakai masker dan menjaga jarak selama pelaksanaan Shalat Hari Raya IduIadha sampai selesai.

f. Setiap jemaah membawa perlengkapan shalat masing – masing, seperti sajadah, mukena, dan lain – lain.
g. Khatib diharuskan menggunakan masker dan face shield pada saat menyampaikan Khotbah Shalat Hari Raya Iduladha.
h. Seusai pelaksanaan Shalat Hari Raya Iduladha, jemaah kembali ke rumah masing – masing dengan tertib dan menghindari berjabat tangan dengan bersentuhan secara fisik.

5. Pelaksanaan qurban agar memerhatikan ketentuan sebagai berikut :
a. Penyembelihan hewan qurban berlangsung dalam waktu tiga hari, tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah untuk menghindari kerumunan warga di lokasi pelaksanaan qurban.
b. Pemotongan hewan kurban dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan Ruminansia (RPH – R). Dalam  hal keterbatasan jumlah dan kapasitas RPH – R pemotongan hewan kurban dapat dilakukan di luar RPH – R dengan protokol kesehatan yang ketat.

c. Kegiatan penyembelihan, pengulitan, pencacahan daging, dan pendistribusian daging kurban kepada warga masyarakat yang berhak menerima, wajib memerhatikan penerapan protokol kesehatan secara ketat, seperti penggunaan alat tidak boleh secara bergantian.
d. Kegiatan pemotongan hewan kurban hanya boleh dilakukan oleh panitia pemotongan hewan qurban dan disaksikan oleh orang yang berkurban.
e. Pendistribusian daging qurban dilakukan langsung oleh panitia kepada warga di tempat tinggal masing – masing dengan meminimalkan kontak fisik satu sama lain.

6. Panitia Hari Besar Islam/Panitia Shalat Hari Raya Iduladha sebelum menggelar Shalat Hari Raya Iduladha di lapangan terbuka atau masjid/musala wajib berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Satuan Tugas Penanganan covid – 19 dan unsur keamanan setempat untuk mengetahui informasi status zonasi dan menyiapkan tenaga pengawas agar standar protokol kesehatan covid – 19 dijalankan dengan baik, aman, dan terkendali.

7. Dalam hal terjadi perkembangan ekstrem covid – 19, seperti terdapat peningkatan yang signifikan angka positif covid – 19, adanya mutasi varian baru covid – 19 di suatu daerah, pelaksanaan SE ini disesuaikan dengan kondisi setempat. (Red)

Check Also

CHRISTIANTO W BERPULANG INI CATATAN DIDIK J R

WAGATABERITA.COM – JAKARTA. Didik J Rachbini adalah seorang Ekonom INDEF yang