WAGATABERITA.COM – JAKARTA.
Setelah kubaca semua
Dari aneka pojok sejarah
Pencapaian tertinggi
Bukan yang paling berkuasa
Bukan yang paling punya harta
Tapi yang tulus dalam perjuangan
Yang ikhlas tegakkan keadilan.
Yang membangun bangsa.
(Di kafe, duduk mereka berdua
Ia lelaki paruh baya
Doktor ilmu sejarah
Namun kini mendalami hikmah
Di depannya,
Darta mendengar saja)
240 tahun yang silam
Itu era kerajaan
Ia pimpinan perang
Ditaklukkannya penjajah
Disatukannya bangsa
Merdeka!!!
Para tetua berkumpul
Bangsa perlu kepala
Ia diminta menjadi Raja
Apalagi jika bukan Raja?
Semua terpana
Ia menolak menjadi Raja (2)
Karena yang berkuasa
Selalu keluarga raja
Ujarnya pemimpin di antara kamu
Harus dipilih oleh hatimu
Namun semua meminta
Tapi kamu butuh kepala
Tangan, kaki dan badan bangsa
Perlu pemberi arah
Ia sepakati menjadi presiden saja (3)
Ialah presiden pertama dikenal sejarah
Semua kembali terpana?
Apa itu presiden?
Tak pernah ada?
Tak dikenal?
Tiada contoh dalam sejarah?
Mengapa tak Raia saja?
Negara tumbuh berlari
Ia dipilih lagi dan lagi
Ketika dipilih ketiga kali
Ia minta berhenti (4)
Ujarnya, sampai di sini, cukuplah
Negara harus tumbuh
Jangan pada satu orang bertumpu
Pilih yang lain,
Yang terbaik darimu
Sudah tiba waktuku
Hanya mantau di hulu
Semua kembali terpana
Di zaman itu
Bukankah Raja di atas sana
Berkuasa selamanya?
Hingga maut mencabut nyawa?
Lama terdiam aku
Tinggi terbang burung itu
Ketika semua cari kuasa
Menolak ia
ketika semua mimpi Raja
Tak mau Ia
Ketika semua terpana
Ingin duduk di atas sana
Selamanya
Tak sudi Ia
Di hatinya ada permata
Dari manakah?
(Darta mendengar saja
Ia diam mencerna
Malam itu di Mushola
Direnungkannya tanya.
Dari mana permata itu?
Ikhlas berjuang (5)
Tulus tegakkan keadilan
Membangun untuk semua.
CATATAN KAKI
1. Puisi esai mini ini dialog saya dengan situasi, dan diinspirasi oleh Juz 19, Q. 25 : 21 – Q. 27 : 55.
2. George Washington menolak menjadi raja :
3. George Washington presiden pertama dalam sejarah.
4. George Washington juga menolak dipilih menjadi presiden ketiga kalinya.
5. Tulus dalam berjuang. Dalam kitab suci, dikisahkan tentang ketulusan Rasul dalam menegakkan agama, yang tidak minta upah dari manusia, apapun upayanya.
Dan aku sekali – kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Q. 23 : 145
(Red/IWO, SENEN 04/06/218)
- ULASAN DENNY JA TENTANG NYANYIAN SETNOV, PUAN MAHARANI DAN EFEK ELEKTORAL DI TAHUN POLITIK
- PENJELASAN DENNY JA MENGENAI ISU : INDONESIA AKAN “MUSNAH” DI TAHUN 2030..?
- TAK AKAN ADA KEKUATAN YANG MAMPU MENCEGAH TAKDIR KERUNTUHAN SISTEM NEGARA ERA REFORMASI
- ULASAN DENNY JA : DAN KREATIVITAS PUN MENULAR
- BUKANKAH PEMBIARAN KESALAHAN SAMA BURUKNYA DENGAN KRITIK ASAL – ASALAN ?
Wagata Berita wagata berita adalah website yang berisikan berita-berita terkini.