Selasa, 13 November 2018, 7:48
Home / EKONOMI / SEPTEMBER KOTA PROBOLINGGO DEFLASI 0,32 PERSEN
Rilis Deflasi BPS.

SEPTEMBER KOTA PROBOLINGGO DEFLASI 0,32 PERSEN

WAGATABERITA.COM – PROBOLINGGO. Di bulan September secara umum Kota Probolinggo, mengalami deflasi (penurunan harga) sebesar 0,32 persen, Jum’at (12/10/2018).

Deflasi terjadi setelah 7 kelompok pengeluaran yaitu, 3 kelompok mengalami deflasi, 2 kelompok mengalami inflasi dan 2 kelompok tidak mengalami perubahan.

Kasi Distribusi BPS, Moch Machsus mengatakan, komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya deflasi yakni, daging ayam ras, tomat sayur, daging sapi, daging ayam kampung, minyak goreng, cabai merah, kopi bubuk, semangka, gula pasir, dan bawang merah.

Sementara komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya inflasi yakni, jeruk, ayam nugget, emas perhiasan, tahu mentah, kentang, bawang putih, mobil, rokok kretek filter, susu untuk balita, tempe.

“Dari beberapa Kota di Jawa Timur yang menjadi kota Indeks harga konsumen (IHK) Nasional, 5 kota mengalami deflasi. Deflasi terkecil terjadi di Kabupaten Jember sebesar 0,05 persen, disusul Kota Madiun sebesar 0,12 persen, Kota Malang sebesar 0,31 persen, Kota Probolinggo sebesar 0,32 persen dan Kabupaten Banyuwangi sebesar 0,49 persen,” terang Mahsus.

Lanjut Machus menjelaskan, jika laju inflasi tahun kalender bulan Januari s/d September 2018, Kota Probolinggo mengalami inflasi 0,90 persen. Sedangkan laju inflasi year on year (September 2018 terhadap September 2017) Kota Probolinggo sebesar 1,70 persen.

Kabag Administrasi Perekonomian, Wawan Soegyantono menyampaikan, Pemerintah Kota Probolinggo terus berupaya mengendalikan inflasi tersebut, yakni melalui sosialisasi, pelatihan dan pembinaan kepada kelompok tani, agar menambah nilai ekonomis pada produknya.

“Pada posisi deflasi lebih bijak dalam berkonsumtif, dan jangan berlebih – lebihan,” imbaunya.

Perwakilan BI Malang, Yon Widiyono mengapresiasi TPID Kota Probolinggo, karena selama tahun 2018, pencapaian inflasi relatif rendah dan terkendali.

“Kami sempat mendengar, ada masalah di 2 bulan terakhir terjadi deflasi yakni, harga barang yang dialami petani turun,” kata Yon.

“Kami juga dengar upaya yang dilakukan pihak Pemkot Probolinggo yakni, hilirisasi menjadikan produk hasil olahan pertanian dan menyalurkan produk kepada industri yang butuh,” tukasnya.

Yon menjelaskan, biasanya jika barang pertanian harganya turun, terjadi karena pasokan berlebih, sementara permintaan tetap.

“Masyarakat agar selalu belanja bijak dan cerdas yakni, jika ada lonjakan harga pada produk yang ingin dibeli, maka diganti dengan produk lain dimana kegunaannya sama. Ini merupakan penstabil harga secara otomatis,” harapnya. (Zulkiflie)

Check Also

JELANG HPN 2019 WARTAWAN PROBOLINGGO DIHADIAHI “PERS ROOM”

WAGATABERITA.COM – PROBOLINGGO. Kado istimewa diberikan Pemerintah Kabupaten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *