Sabtu, 19 Oktober 2019, 19:34
Home / JAKARTA / PRAKTEK POLIGAMI TETAP MERUGIKAN PEREMPUAN DAN ANAK
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise.

PRAKTEK POLIGAMI TETAP MERUGIKAN PEREMPUAN DAN ANAK

WAGATABERITA.COM – JAKARTA. Itu yang disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise menanggapi Rancangan Peraturan Daerah (Qanun) Aceh tentang Hukum Keluarga yang di dalamnya mengatur ketentuan untuk beristri lebih dari 1 (satu) orang (poligami).

Menteri Yohana berharap Perda ini harusnya juga mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi perempuan dan anak, oleh karenanya, diperlukan aturan terkait pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak berbasis keluarga sesuai dengan hukum syariat di Aceh.

Kata Menteri Yohana, “Praktik poligami yang terjadi saat ini sangat merugikan perempuan dan anak. Adanya Perda yang mengatur ketentuan poligami dalam Hukum Keluarga tersebut secara otomatis menjadikan perempuan dan anak sebagai korban. Namun, hal tersebut justru membuka peluang terjadinya poligami dan akan semakin banyak kaum perempuan dan anak yang mengalami kekerasan. Ingat, kekerasan bukan hanya berbentuk fisik, tapi juga bagaimana permasalahan psikologis. Kita juga harus memahami perasaan seorang perempuan dan efek psikologis anak ketika suami atau bapaknya melakukan praktik poligami. Bukan hanya itu, banyak kepentingan perempuan dan anak yang tidak terpenuhi dan harus dipertimbangkan akibat praktik poligami,” tegasnya.

Memiliki pandangan bahwa poligami ini sudah ada dan terjadi di masyarakat Aceh membuat Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Pemerintah Aceh menganggap perlu diatur secara jelas dan tegas dengan tujuan memperketat dan mempersulit syarat – syarat agar tidak sembarangan dipenuhi keinginan Poligami ini sehingga muncul Rancangan Qanun di kalangan masyarakat Aceh untuk mengatur, membina, dan melaksanakan hubungan keluarga yang mempunyai karakteristik tersendiri serta mendasarkan kepada hukum syariat Agama Islam, di mana poligami tidak dilarang.

Walau demikian, Menteri Yohana menampik bagaimanapun aturan atau persyaratannya, praktik poligami tetap saja tidak berpihak pada kepentingan terbaik bagi perempuan dan anak. Menurut Menteri Yohana, sebuah rumah tangga yang baik tumbuh dari perkawinan seorang laki – laki dan seorang perempuan.

“Perkawinan pada dasarnya merupakan ikatan lahir batin antara seorang laki – laki dengan seorang perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Oleh karenanya, dalam Perda Aceh terkait Hukum Keluarga tersebut juga diperlukan aturan yang mengatur pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak berbasis keluarga sesuai dengan hukum syariat di Aceh,” tutup Menteri Yohana. (Red)

Check Also

SEMPAT MOLOR PELANTIKAN ALEG BUTUR

WAGATABERITA.COM – BUTON UTARA. Pelaksanaan pelantikan 20 Anggota Legislative