Minggu, 20 Oktober 2019, 0:07
Home / JAKARTA / BANYAK YANG NYINYIR KASUS WIRANTO DIANGGAP NALAR EMPATI PUBLIK MENURUN
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum Keamanan Wiranto. (Google)

BANYAK YANG NYINYIR KASUS WIRANTO DIANGGAP NALAR EMPATI PUBLIK MENURUN

WAGATABERITA.COM – JAKARTA. Penusukan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto, di Pandeglang Banten, Jawa Barat hari Kamis lalu terus menjadi kontraversi pembicaraan banyak orang.

Banyak yang mengutuk kejadiaan yang dilakukan pasangan suami istri yang terafiliasi teroris tetapi ada pula yang benada nyinyir termasuk ada pula yang berpendapat kejadian tersebut merupakan settingan belaka.

Wiranto diketahui hingga saat ini Sabtu (12/10/2019) masih dirawat di RSPAD Gatot Subroto. Akibat dua tusukan yang menghujam perutnya dan Wiranto harus kehilangan usus halus sepanjang puluhan centimeter yang harus dipotong karena mengalami infeksi.

Tetapi diketahui terdapat beberapa orang yang dilaporkan kekepolisian atas postingan mereka di Media sosial yang memberi pernyataan nyinyir atas kejadian yang terjadi pada Wiranto.

Seperti istri Anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Angkatan Darat dan Angkatan Udara bahkan suami mereka yang sedang berdinas dicopot dari jabatan menyusul komentar para istri yang bernada nyinyir soal penusukan terhadap Wiranto termasuk Jerinx Superman Is Dead (SID), dan putri politikus Amien Rais, Hanum Rais, juga dipolisikan akibat komentar senada.

Pada beberapa komentar miring sejumlah orang pengamat politik dari LIPI, Wasisto Raharjo menilai ketidak percayaan di berbagai platform media sosial ini bukan terjadi karena polarisasi publik akibat Pilpres 2019 lalu, ini terjadi akibat menurunnya nalar empati publik maka, sikap egoisme publik pun menjadi besar.

“Kalau arahnya ke polarisasi lantaran perbedaan sikap politik saya rasa basi, sudah tidak relevan. Ini terjadi karena disinformasi yang dikonsumsi tidak seimbang, juga karena nalar empati publik sudah semakin menurun,” kata Wasis seperti dilansir cnn.

Wasis menuding ketidak percayaan insiden merupakan buntut dari efek bola salju dari revisi UU KPK yang dianggap belum selesai, sehingga bisa jadi publik menganggap ini hanya respons terhadap banyaknya korban yang jatuh saat melakukan demonstrasi dan ini dianggap masyarakat hanya untuk menunjukkan bahwa aparat juga bisa disakiti dengan mudah.

Pemerintah sebaiknya mengembalikan fungsi sebagai pendengar masyarakat, jangan menggunakan pendekatan keamanan dengan menerjunkan aparat ketika masalah sekecil apapun datang, “makanya sikap tak percaya ini muncul. Padahal Pemerintah bisa melakukan perbaikan di bidang respons mereka terhadap isu publik yang berkembang,” kata Warsis (Red/*)

Check Also

SEMPAT MOLOR PELANTIKAN ALEG BUTUR

WAGATABERITA.COM – BUTON UTARA. Pelaksanaan pelantikan 20 Anggota Legislative