Minggu, 19 April 2026, 17:06
Home / EKONOMI / AGUSTUS PEREKONOMIAN KOTA PROBOLINGGO ALAMI DEFLASI 0,35 PERSEN
Tim Pengendali Inflasi Daerah.

AGUSTUS PEREKONOMIAN KOTA PROBOLINGGO ALAMI DEFLASI 0,35 PERSEN

WAGATABERITA.COM – PROBOLINGGO. Kondisi perekonomian Kota Probolinggo, jadi daerah tertinggi tingkat Deflasi terbesar di Jawa Timur, Sabtu (15/09/2018).

Dimana berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Deflasi Kota Probolinggo berada di angka 0,35 persen pada bulan Agustus. Deflasi terjadi karena kurangnya jumlah uang yang beredar).

Sementara dibawah Kota Mangga, ada Kabupaten Sumenep sebesar 0,19 persen, Kota Kediri 0,10 persen, Kota Madiun 0,08 persen, Kabupaten Banyuwangi 0,05 persen dan Kabupaten Jember 0,01 persen.

Sedangkan kota yang mengalami inflasi adalah Kota Malang 0,05 persen dan Kota Surabaya 0,23 persen.

Di Kota Probolinggo, Deflasi dipicu oleh empat kelompok pengeluaran, dan tiga kelompok lainnya mengalami inflasi. Kendati demikian, Pemerintah Kota Probolinggo terus berupaya mengendalikan inflasi tersebut.

Mengacu data BPS kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi, adalah bahan makanan, sandang, pendidikan rekreasi dan olahraga, transportasi komunikasi dan jasa keuangan.

Sedangkan kelompok yang mengalami inflasi antara lain makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, kelompok perumahan listrik gas dan bahan makanan serta kesehatan.

Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Bambang Agus Suwignyo mengatakan, Pemkot telah berupaya mengendalikan inflasi di bulan Agustus melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

Seperti melalui kegiatan Pasar Minggu di Alun – alun, Semipro (Seminggu di Kota Probolinggo) oleh DKUPP, Dinas Kesehatan dengan pemantuan, pemeriksaan fasilitas pelayanan kesehatan, agar tidak ada kenaikan signifikan dan kenaikan beberapa harga obat, tetapi tidak diikuti tingginya permintaan masyarakat.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, melalui pemantauan deflasi di komoditas daging ayam ras, daging ayam buras, telur ayam ras. Serta Dinas Perikanan yang menyebutkan ikan kembung dan cumi-cumi mengalami kenaikan harga, serta menyumbang laju inflasi.

“Tentunya para OPD, harus memonitor terus harga komiditi di pasaran, disamping melakukan operasi pasar bila terjadi kenaikan harga dengan drastis,” kata Bambang Agus.

“Lalu membuat posko pengaduan dan meningkatkan pasar-pasar tradisional seperti iwak-iwakan agar ditambah frekuensinya, agar perekonomian tetap stabil,” tukasnya.

Terpisah Kasi Distribusi BPS Kota Probolinggo, Machsus mengimbau masyarakat agar berhati – hati dalam berbelanja, dengan menahan diri belanja barang yang tidak terlalu penting.

Pasalnya, meski infasli masih terkendali tetapi perjalanan nilai rupiah masih terus bergejolak.

“Tidak perlu berbelanja yang tidak kita butuhkan karena bisa menganggu stabilitas ekonomi. Masyarakat harusnya berbelanja terhadap sesuatu yang diperlukan,” tegasnya. (Zulkiflie)

Check Also

PERTEMUAN G20 HINGGA PERNYATAAN DELEGASI

WAGATABERITA.COM – JAKARTA. Agenda pertemuan G20 dilangsungkan di Indonesia