Kamis, 2 Desember 2021, 22:48
Home / JAKARTA / BERIKUT JUKNIS PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT BILA BEROPERASI
Ilustrasi pelayanan dokter. (Dokumen)

BERIKUT JUKNIS PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT BILA BEROPERASI

WAGATABERITA.COM – JAKARTA. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut sangat dibutuhkan masyarakat walau kondisi Pandemi covid – 19 sempat menghentikan atau menunda pelayanan ini tetapi sulit dipungkiri kondisi ini sangat metesahkan baik bagi pasien termasuk bagi dokternya.

Melalui data Persatuan Dokter Gigi Indonesia terdapat 39 dokter gigi meninggal terpapar covid – 19 dengan jumlah positif covid – 19 sebanyak 396 orang hingga 5 Februari 2021 yang terdiri dari Puskesmas 199 orang, Rumah Sakit 92 orang, klinik 36 orang, praktek Mandiri 35 orang, dan institusi pendidikan atau Fakultas Kedokteran Gigi 13 orang.

Pandemi covid – 19 melalui survei WHO dijelaskan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan terganggu sehingga upaya penyesuaian pelayanan khususnya kesehatan gigi dan mulut diperlukan guna mencegah penularan sehingga dapat menyelamatkan nyawa pasien maupun dokter gigi.

Oleh sebab itu Kementerian Kesehatan RI menerbitkan petunjuk teknis (Juknis) baru bagi Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru yang bertujuan mengurangi penularan covid – 19.

Dokter Iwan Dewanto salah satu Tim Penyusun buku Juknis Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut mengatakan, “dokter gigi termasuk tenaga kesehatan yang berisiko tinggi. Dokter gigi bisa tertular covid – 19 salah satunya bisa terjadi apabila droplet dari pasien positif covid – 19 hinggap pada alat kerja yang digunakan dokter gigi” jelasnya seperti dikutip laman Kemenkes Jumat (30/04/2021).

Tahapan skema pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang harus diterapkan saat ini terdiri dari empat tahap yakni pertama Tahapan Persiapan Dokter Gigi, dokter gigi harus mengatur ruang praktik, yakni memastikan aliran udara dan ventilasi, pengelolaan air bersih dan pengelolaan ruangan.

Harus dipastikan ada ventilasi aliran udara masuk dari arah belakang ruangan dan ada aliran udara keluar ke arah depan ruangan dengan posisi exhaust Fan berada di bawah yang berjarak kurang lebih 20 cm dari lantai agar aliran udara terjadi termasuk menghindari adanya kegunaan kipas angin atau AC yang terletak di langit – langit bahkan di depan dental unit/kursi gigi dengan arah angin mengarah dari pasien ke operator saat melakukan prosedur.

Ruangan dengan dental unit berjumlah lebih dari 1 seperti Puskesmas dengan 2 dental unit tanpa sekat harus disekat menjadi ruangan tertutup bagi masing – masing dental unit atau dengan diberi jarak 2 meter antar dental unit dengan memperhatikan ventilasi udara di dental unit masing – masing dan bila tak mungkin dilakukan maka hanya satu dental unit yang harus digunakan merawat pasien.

Tahapan kedua sebelum kunjungan pasien dilakukan penapisan atau skrining pada pasien termasuk pengelolaan penjadwalan kunjungan pasien ke FKTP, “penapisan ini bisa dengan menggunakan teledentistry atau konsultasi dengan dokter gigi dengan memanfaatkan media telekomunikasi,” terang drg. Iwan.

Volume pasien saat ini juga harus dikendalikan dirubah batas maksimal volume pasien yang harus dihitung pihak Puskesmas yang ditetapkan berdasarkan jumlah kamar praktik dokter gigi, luas ruang praktik dokter gigi, tata letak fasilitas prasarana yang digunakan di dalam ruangan, dan waktu yang diperlukan untuk membersihkan dan mendesinfeksi prasarana tersebut.

Saat Kunjungan Pasien pada tahap ketiha yakni melakukan pengukuran suhu termasuk pasien diwajibkan mencuci tangan pakai sabun ditempat yang sudah disediakan dan Puskesmas wajib memasang himbauan protokol kesehatan dalam bentuk poster, standing banner, atau stiker.

Setelah Selesai Kunjungan Pasien pada tahap keempat yang terakhir dilakukan pembersihan lingkungan kerja, disinfeksi, sterilisasi dan untuk follow up pasien bisa digunakan teledentistry dan yang terpenting dalam praktek dokter gigi saat diwajibkan ada zonasi yang jelas yakni zona kuning untuk ruangan resepsionis, ruang tunggu pasien, dan ruang staf. Di zona ini semua orang harus memakai masker dan melakukan hand hygiene.

Zona merah adalah zona infeksius yang digunakan untuk tindakan dan saat praktek wajib memakai APD sesuai rekomendasi, “dengan tersusunnya petunjuk teknis pelayanan kesehatan gigi dan mulut di FKTP pada masa adaptasi kebiasaan baru ini diharapkan dapat menjadi panduan dalam penata laksanaan pelayanan gigi dan mulut yang selama pandemi ini terhenti atau sangat terbatas,” tutup drg. Iwan. (Red)

Check Also

APRESIASI CAMAT SUKODONO KE MAHASISWA UNKAR

WAGATABERITA.COM – SIDOARJO. Covid – 19 masih terus membuat korban. Diketahui